Minggu, 16 Juni 2013

Episode " 3 Kelompok Perusak Bahasa "

Terdapat 3 kelompok manusia yang merusak makna kata, atau bisa dibilang perusak bahasa karena mereka dianggap menggunakan bahasa serampangan, seenak udelnya. Nah, kelompok yang pertama adalah politisi. Persamaan dari penulis dan politisi adalah, mereka sama-sama doyan berkata-kata. Perbedaannya, penulis yang gigih memiliki cita-cita setinggi langit untuk “mengorek kata hingga ke putih tulang” (Chairil Anwar). Sementara politisi yang gigih memiliki dorongan alami untuk membungkus hasrat setinggi langit dengan kata-kata. Dengan kata-kata mereka berjanji, dengan kata-kata mereka berdalih. 
 
Mereka menggunakan bahasa untuk menjalankan strategi the art of being nonsense. Kata-kata yang disampaikan oleh politisi di panggung politik jarang kita temukan buktinya. Jangankan kata-katanya setajam pedang, kita justru melihat kata-kata yang setumpul pikiran penuturnya.
Kelompok kedua yang serampangan dalam menggunakan kata adalah para alayers. Mereka menulis dengan cara akrobatik dan tidak risau menampakkan gejala-gejala dangkal pada pemikiran mereka. Cara menulis Alay adalah mode, seperti selayaknya fashion, gaya rambut, music dan lainnya. Alay adalah strategi remaja untuk menyatakan keberadaan dan membedakan diri. Sebagian nanti akan jemu dan merasakan strategi ini sudah tidak layak. Sebagian lagi mungkin tidak bisa menentukan alternative lain dan tetap mempertahankannya kendati sudah tua. Artinya, mereka tetap remaja. Mereka tidak bisa mematangkan diri, bahkan mungkin sampai tumbuh uban di rambut.
Kelompok ketiga yang memiliki kecenderungan lebay dalam berahasa adalah para motivator atau orang-orang yang memiliki hasrat meluap untuk menjadi motivator. Mereka meyakini bahwa perubahan dimulai dari penggunaan bahasa, banyak dari mereka gagal mengerem diri sendiri dari upaya berlebihan. Misalnya, mereka tidak mau menggunakan “Selamat pagi!” tetapi memilih “Semangat pageeeee!”.
 
 
*Rewrite dari artikel karya A. S. Laksana dengan judul “Le Mot Juste” di rubrik Ruang Putih, Jawa Pos edisi Minggu, 21 Oktober 2012
Selengkapnya →

Puisi Malam Ini


Malam ini kurasa perih menggores hati,
segenap tawa terbungkam mati,
sejuta asa terbunuh sepi,
raga pun tak sanggup berdiri.

Kemana harus ku langkahkan kaki,
semua jalan terasa berduri.
Dimana harus ku cari kebahagiaan sejati,
di hulu dunia tiada ku temui..


Malam Kesedihan

Malam ini pikiranku kalut,
bersemayam di ujung maut,
tiada tali cinta yang dapat dirajut,
hanya amarah yang kian menyulut.

Pergilah risauku bagai kentut,
agar jalan hidupku tak lagi semrawut.
Ku berdoa sembari bersujud,
agar motivasiku takkan pernah surut..


Oleh : Abdul Ghofur

Selengkapnya →

Huruf Terakhirku


Huruf Terakhir ilustrasi Budiono
  NAMAKU Lili, ujarmu di perkenalan kalian dua tahun yang lalu, perkenalan yang akhirnya mengantarkan kalian ke pelaminan, pernikahan yang melempar kalian ke kesemuan yang lucu, kenyataan yang menyeret kalian ke dalam lakon berdarah siang itu!
***
SEJAK dipromosikan menjadi sekretaris direktur, sebagian besar waktumu kauhabiskan untuk urusan pekerjaan. Kau tak pernah tahu, sedari kauputar kunci Avanza lalu meluncur ke kantor di utara kota, Illy selalu berhasil membawamu kembali. Dari pagi hingga malam meninggi, kalian membincangkan banyak hal. Dari pekerjaan, kesetaraan gender, kurs rupiah yang makin anjlok, anggota-anggota DPR yang beradu mulut dan saling tonjok, isu naiknya harga BBM, hingga perkara asmara.
Untuk yang terakhir, kalian tidak hanya terlibat dalam perbincangan yang hangat, tapi juga kerap bercumbu bagai tak menenggang keberadaan tetangga. Kadang Illy tertawa keras-keras, kadang memekik penuh gairah, dan tak jarang melenguh seolah tengah menuntaskan pertarungan-ranjang. Kalian selalu melakukannya sepanjang hari. Bila kau pulang cepat, di waktu yang sama, kauburu-buru menyelinap keluar dari pintu belakang.
Illy juga selalu pandai berakting seolah sepanjang hari sibuk menulis artikel budaya untuk koran lokal, beberapa puisi picisan untuk majalah remaja, menghitung untung-rugi beberapa usaha alternatif yang hingga kini belum direalisasikan, atau membereskan pekerjaan rumah sebagaimana dilakukan oleh para ibu rumahtangga—atau bahkan para pembantu rumahtangga. (Bukan, bukan kau yang meminta Illy melakukannya. Dia sendirilah yang mengajukan diri seolah menenggang kesibukan yang membelitmu, seolah tahu diri dengan status penganggurannya). Selayang pandang, Illy memang tampil sebagai suami yang sayang istri. Ya, walau menjadi penopang keuangan keluarga, kau tak pernah berpikir untuk membabukan suami.
Kau hanya sering heran, mengapa Illy selalu lupa merapikan seprei ranjang atau sofa panjang ruang tengah. Kau selalu mendapati dua perabotan itu dalam keadaan kusut atau berantakan. Kau tak pernah menaruh curiga kepadanya. Kau seolah lupa, sepengangguran apa pun, Illy adalah seorang sarjana, Illy adalah laki-laki normal yang haus kehangatan, Illy bukanlah seorang dungu yang setia-buta menantikan kaupulang larut malam dalam keadaan lelah yang sangat (dan Illy menyiapkan air hangat yang akan membilas lelahmu agar kau dapat menyongsong malam dengan mimpi yang menerbangkan kepenatan). Lagipula takkah kau merindukan kehadiran seorang anak, Lili?
Ah, yang terang, kau tak pernah tahu, Illy hanya memandangimu yang pulas di sampingnya (Oh Lili, takkah kau iba kepadanya?); kau tak pernah sadar bahwa kau tak pernah punya waktu untuk bertarung dengannya di dalam kelambu brokat tembus pandang; kau juga tak pernah tahu, akhirnya Illy melampiaskan gairah kepada kesepiannya, kepada yang tiba-tiba meluangkan waktu untuk mendengar curhatnya, kepada yang tiba-tiba mendengarkan setiap keluh-kesahnya, kepada yang selalu memberi pertimbangan perihal usaha yang akan ia buka, kepada yang selalu memberi kenikmatan tak tertanggungkan tanpa harus berlaku sepertimu dulu: menerapkan kamasutra yang aneh-aneh lalu menganggurkannya sekian lama hingga saat ini!
Kau sangat kejam, Lili!
***
PAGI itu, kau tergesa-gesa mengunyah nasi goreng masakan Illy ketika ponselmu berdering nyaring. Direktur memintamu ke kantor lebih awal. Ada rapat mendadak dengan klien di perusahaan. Tanpa banyak ba-bi-bu, kau-oke-kan saja. Kautinggalkan sarapan yang baru kaulahap dua sendok. Terburu-buru kauambil segelas sirup-sunkis dan meminumnya seperempat isi. Setengah berteriak kaupamit. Kaututup pintu serampangan. Menuju Avanza yang baru selesai dicuci Illy pagi tadi. Tak sampai dua menit, mobil metalik itu sudah membawamu menyusur jalanan yang bingar oleh perang klakson.
Di kantor, kau akan mendampingi laki-laki flamboyan yang kaupanggil “Pak Direktur” untuk mengikuti rapat yang akan dimulai satu jam lagi. Kau tahu kalau laki-laki itu sudah lama menaruh hati kepadamu. Namun kau mengabaikannya saja. Tentu saja kau tidak menunjukkanya. Kau masih cukup cerdas memilih; kapan melengkungkan senyum, kapan mengejek ketakberdayaan pimpinan. Kau selalu pandai berkilah bila rekan-rekan kantor (khususnya yang wanita) kerap mengolok-olokmu. Kepada mereka kaunyatakan bahwa kau memang tak membantah perihal Pak Direktur yang sangat perhatian, namun kau menolak dikatakan mendapatkannya dalam porsi lebih, apalagi dengan cara yang tak semestinya.
Pak Direktur hanya ingin menunjukkan bahwa karyawan yang baik akan mendapat tempat yang lebih layak, ujarmu sok bijak.
Kau terenyak mendapati berkas-berkas di dalam mapmu. Ada yang kurang. Kaulirik arloji mungil yang melilit pergelangan tangan kirimu. Tiga puluh menit lagi rapat akan dimulai. Kauminta izin keluar sebentar. Pak Direktur menunjukkan air muka keberatan. Namun senyum manis yang kausunggingkan, seolah-olah meyakinkan pimpinan perusahaan itu bahwa kau akan kembali sebelum rapat dibuka. Ya, tentu saja tak kaukatakan bahwa kaupulang mengambil beberapa nota kesepakatan yang akan ditandatangani klien perusahaan di akhir rapat.
Kaunyalakan mobil. Kautarik napas agak panjang sebelum menginjak pedal gas. Kau akan mengemudi dalam kecepatan tinggi. Mobil melaju. Cepat. Kaupasang konsentrasi tinggi. Mobilmu meliuk dengan mulus di beberapa simpang dan jalan yang tak rata. Baru kali ini kaudapati bukti bahwa keadaan genting dapat melecutkan keberanian hingga beberapa kali lipat.
Kaubunyikan klakson beberapa kali namun Illy tak kunjung membukakan pagar. Kau pun kesal. Kauturun dari mobil. Kau menggeret pagar dengan muka kusut. Kauparkir mobil sekenanya di halaman (sebenarnya bisa saja kau memarkirkan mobil di depan pagar tapi kaukhawatir ada mobil lain yang akan melintas di jalan kompleks yang sempit itu). Kau menarik gerendel pintu depan dengan gerakan malas. Kaubanting pintu. Kaugegas ke ruang kerja. Kau membuka lemari yang biasa kaugunakan untuk menyimpan berkas-berkas kantor. Sembari memeriksa berkas-berkas yang belum juga ditemukan, kau memanggil-manggil suamimu. Tentu saja kau bukan hendak meminta bantuannya untuk mencarikan beberapa map penting karena ia memang tak tahu apa-apa tentang pekerjaanmu. Kau hanya ingin memastikan bahwa suamimu ada di rumah. Kau hanya ingin tahu mengapa ia tidak mengunci sekaligus membukakan pagar dan pintu untukmu… mengapa ia mengabaikanmu!
Praaanggggg!!
Kau menoleh. Vas bunga kristal yang dihadiahkan Pak Direktur di hari ulangtahunmu beberapa bulan yang lalu, tersenggol siku tanganmu. Pecah. Beling-beling berserakan di lantai. Kau makin kesal. Mulutmu mulai merunyam. Beberapa kali kaupanggil suamimu dengan berteriak. Tak juga ada tanggapan. Ponselmu berdering. Nama Pak Direktur mengedap-kedipkan layarnya. Irama degup jantungmu mulai timpang. Butir-butir keringat berebutan menerobos pori-pori kulitmu. Kau menarik napas panjang sebelum memutuskan menjawab panggilan.
Klek!
Perasaan lega dan khawatir bertabrakan dalam dadamu ketika mendapati panggilan terputus sebelum sempat kaujawab. Kaugegas menekuri lemari berkasmu. Ups! Matamu berbinar cerlang. Kau akhirnya menemukan apa yang kaucari. Kau melirik arloji di tangan. O, rapat pasti baru saja dimulai, gumammu. Kau tahu, Pak Direktur pasti marah. Tapi memilih mendampinginya tanpa berkas yang harus ditandatangani, tentu dapat membuatmu terdepak dari posisi nyaman.
Baru saja hendak menuju pintu, kau mendengar suara dari arah kamarmu. O, suara itu memang berasal dari sana. Dan suara itu. O, benarkah suara itu benar-benar dari kamar? Itu suara suamiku, batinmu bergetar. Suara itu, suara itu, desahan itu, desahan yang menggambarkan kenikmatan yang tengah didaki.
Benarkah desahan itu memanggil-manggil namaku, batinmu menggigil.
Bahumu turun-naik. Perasaanmu benar-benar tak tentu. O, tidakkah kausadar, sudah lama nian kau tidak membuat suamimu mengeluarkan suara-suara yang meremangkan gairah? Dan kini…. O kini, kepalamu bergasing demi menerka siapa yang telah membuat suamimu sebergelora saat ini!
Kau bersijingkat mendekati pintu kamar. Pelan-pelan kaubuka pintunya yang tidak terkunci. Kau mengintip. Awalnya kausipitkan sebelah mata sebelum akhirnya tanpa kendali kaubelalakkan kedua indera penglihatanmu itu. Kau berteriak sembari berlari menuju suamimu yang bergeliat di atas seprei ranjang yang kusut.
Paaakkkk!
Sebelah tanganmu terasa berdenyar sehabis menampar sebelah pipi laki-laki yang sedari tadi sibuk memegangi kelaminnya sendiri!
Illy pun terkesiap tak alang kepalang. Refleks ia bangun, mengeret tubuhnya ke pojok ranjang, lalu meraih selimut untuk menutupi kemaluannya. Ia benar-benar malu dengan apa yang baru saja terjadi. Kau pun memandanginya dengan tatapan iba. Sekujur tubuh suamimu simbah oleh keringat.
Tampaknya kau benar-benar merinduiku, Sayang… ujarmu seperti bergumam. Suaramu seperti merasa sangat berdosa.
Illy masih menggigil. Ia seperti remaja yang habis digagahi tiga orang sekaligus. Tatapannya kosong. Ia terus memanggil-manggil namamu. Kau tak kuasa meneteskan airmata. Kau seolah baru sadar telah mengabaikan suamimu lebih dari setahun belakangan.
Kaulepaskan stiletto-mu. Kaunaik ke atas ranjang. Kaupeluk suamimu seolah menenangkan seorang anak kecil yang habis dihajar ayah tiri. Kaurapat-rapatkan dadamu ke wajahnya dan ia terus saja memanggil-manggil namamu.
Aku di sini, Sayang, ujarmu lagi dengan nada menenangkan seraya melepaskan syal yang melilit lehermu. Aku juga sangat merinduimu, lanjutmu dengan wajah penuh rona. Kini, kaulepaskan semua yang menutupi tubuhmu. Kaupikir, bercinta dengan suamimu siang itu adalah salah satu cara untuk mengakui kealpaanmu selama ini. Kau seperti mendadak tak peduli pada rapat di kantor yang akan segera berakhir. Kau tak tahu kalau suamimu benar-benar bingung apa yang tengah dihadapi. Sungguh, ia ingin melanjutkan percintaan denganmu, perempuan yang menggiring jemarinya mencumbui selangkangan sendiri….
Gubrraaakkk!!
Tendangan kaki kanan Illy membuatmu terjerengkang dari atas ranjang. Tubuhmu berguling-guling di lantai. Kaurasakan banyak kunang-kunang mengitari kepala. Pelipismu meneteskan cairan marun kental. Samar-samar kaulihat Illy meraih tembikar seukuran tubuh bayi dan… o o o, ia mengarahkannya ke arahmu, ke kepalamu!
Kau tak sempat berteriak, seolah membiarkan deringan ponsel dalam tas kerjamu (nama Pak Direktur mengedap-kedipkan layarnya) membisingkan siang itu, seolah membiarkan kematian datang bersama ketaktahuan yang mengenaskan:
Yang Illy inginkan bukan Lili, tapi Lily! (*)
Tabarenah, April-Juni 2012
Benny Arnas, lahir dan tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Buku cerita pendeknya adalah Bulan Celurit Api (2010) dan Jatuh dari Cinta (2011). Bersama sang istri, mengelola BENNY INSTITTUTE
Selengkapnya →
Kamis, 13 Juni 2013

(book riview) Filosofi Kopi By Dewi ''dee'' Lestari

 

Judul Buku  : Filosofi Kopi
Pengarang  : Dewi “Dee” Lestari
Penerbit  : Penerbit Bentang
Tahun Terbit  : 2012
Tebal : 142 Halaman
Terdiri dari prosa dan cerita yang ditulis Mbak Dee dari tahun 1995-2005. Karena buku ini berisi 18 judul prosa dan cerita, saya hanya akan mengulas cerita yang saya suka.


FILOSOFI KOPI

Ben dan Jody, pemilik kedai kopi yang awalnya bernama Kedai Koffie BEN & JODY dan kemudian berubah nama menjadi Filosofi Kopi dengan slogan “Temukan Diri Anda di Sini”. Sejak penggantian nama dan slogannya, kedai mereka menjadi populer. Yang datang bukan hanya penggemar kopi, tapi juga orang-orang yang penasaran ataupun grup penggila filsafat yang lebih menikmati berbincang dengan Ben, sang barista.
Dengan ide-ide Ben yang kreatif, kedai kopi mereka semakin memiliki banyak pelanggan setia. Suatu hari Ben mendapat tantangan dari seorang pengusaha kaya. Ben ditantang untuk membuat kopi yang sempurna dengan imbalan 50 juta. Setelah bekerja keras, akhirnya Ben berhasil membuat racikan kopi yang sempurna dan memenangkan tantangan dari pria kaya itu. Kopi yang sempurna itu diberi nama Ben’s Perfecto.
Ben’s Perfecto menjadi primadona dan menjadi menu yang paling banyak dibeli. Ben merasa sangat puas dengan hasil kerja kerasnya, sampai suatu hari seorang pria setengah baya datang ke Filosofi Kopi dan memesan Ben’s Perfecto. Ben terpukul karena pria setengah baya itu mengatakan kalau ada kopi yang lebih enak dari Ben’s Perfecto. Berbekal rasa ingin tahu, Ben mengajak Jody ke pedesaan yang ditunjuk pria itu untuk mencicipi kopi yang disebut-sebut lebih enak dari Ben’s Perfecto.

MENCARI HERMAN
Seorang Aku yang tidak menyebutkan namanya bercerita tentang Hera, adik temannya. Hera punya obsesi aneh. Hera ingin mencari seseorang yang bernama Herman. Ya, Hera tidak pernah punya kenalan yang bernama Herman. Nama Herman sejati, tidak pakai embel-embel “to”, “syah”, ataupun yang punya unsure ke-“herman-herman”-an dalam namanya.
Sampai kuliah kedokteran pun Hera masih berusaha mencari sang Herman. Hingga akhirnya dia hamil di luar nikah. Tentu saja bukan dengan seorang Herman. Hidup Hera akhirnya hancur. Dan, setelah pulih lahir batin, Hera ingin jadi seorang pramugari.
Menjadi pramugari tak membuat hidup Hera membaik. Dia malah menjadi simpanan seorang pilot sehingga membuat keluarganya menjauhi dia. Hidupnya semakin hancur, dan semakin jauh kemungkinan untuk bertemu seorang Herman. Dengan ending yang tragis, cerita ini membuktikan bahwa pepatah “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan” benar adanya.

RICO DE CORO
Rico, seorang kecoak ningrat dan merupakan pangeran kecoak jatuh cinta pada manusia yang bernama Sarah. Sarah merupakan keluarga tempat Rico dan pasukan kecoak lainnya tinggal. Tapi tentu saja kisah cinta ini tidak akan pernah bisa berjalan mulus. Rintangan yang paling berat adalah Sarah sang pujaan hati takut pada spesies yang bernama kecoak.
Cinta Rico pun semakin mustahil ketika terjadi perburuan besar-besaran kecoak oleh keluarga Sarah. Yang membuat sang raja, Ayah Rico geram adalah karena rakyat-rakyatnya dibunuh untuk dijadikan makanan ikan arwana peliharaan Papa Sarah.
Sang raja memutuskan untuk membalas dendam dengan bantuan seekor spesies kecoak baru hasil persilangan berbagai serangga. Lalu bagaimana nasib kisah cinta Rico dengan Sarah? Baca sendiri cerita yang kocak dengan ending tragis ini.

THE REVIEW
Cerita-cerita di buku ini enak dibaca, mudah dipahami dan punya tema unik seperti karya Mbak Dee yang lainnya. Selain cerita-cerita diatas ada juga cerita lain seperti, Sikat Gigi, Sepotong Kue Kuning, Lara Lana dan Buddha Bar.
Sebenarnya semua isi buku ini menarik untuk dibaca. Tapi, menurut saya ketiga cerita diatas yang paling berkesan. Contohnya Lara Lana, cerita ini benar-benar mengejutkan. Awalnya saya pikir Lana itu seorang… ternyata…
Untuk bagian prosa sendiri saya tidak bisa menceritakannya karena  terlalu pendek dan bermakna luas. Jadi, sebaiknya baca sendiri bukunya .
Akhirnya, dengan selesainya baca buku ini lengkap sudah karya-karya Mbak Dee yang saya baca. Bukunya sangat ringan tapi berisi, persis seperti karya Mbak Dee yang saya baca sebelumnya, Madre.

MEMORABLE QUOTES
  • “Kopi Tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk. Bukan cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. Bodoh! Bodoooh!” Hal. – 23
  • “Pepatah bukan sekedar kembang gula susastra. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk memformulasikannya. Dibutuhkan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang santai ke tepian. Dibutuhkan orang yang tersungkur jatuh dan harus tertimpa tangga. Dibutuhkan sebelanga susu hanya untuk dirusak setitik nila. Dibutuhkan seorang Hera yang mencari Herman.” Hal. – 31
  • “Larilah dalam kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan begitu, kita mampu memperbudak waktu. Melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu.” Hal. – 71
  • “Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.” Hal. - 99 
Selengkapnya →
Rabu, 12 Juni 2013

Mengenal Karakter Dan Watak Para Tokoh Pewayangan

DUNIA pewayangan (wayang kulit) melalui tokoh-tokohnya sebenarnya memuat banyak simbol dan karakteristik watak manusia. Sejumlah tokoh pewayangan dengan jelas juga merupakan simbol karakteristik pria. Seperti tokoh Arjuna, pria lambang ketampanan, Yudhistira suka perdamaian, Bima adalah pria yang mahal dalam cinta dan tidak gampang tertarik terhadap perempuan.
 

Berikut adalah beberapa watak dari sejumlah tokoh pewayangan, yang sering dijadikan simbol watak pria, yang disarikan dari pedalangan gagrak Yogyakarta maupun Surakarta.

1. Yudhistira (Sang Ludira Seta)
Yudhistira termasuk putra sulung Pandawa, putra dari Dewi Kunthi. Ketika mudanya bernama Puntadewa, raja Amarta. Puntadewa juga terkenal dengan sebutan gelar Sang Ludira Seta yang artinya berdarah putih. Ini melambangkan pria yang tulus ikhlas dalam berbagai hal. Bahkan dalam satu cerita, Puntadewa rela memberikan isteri tercintanya ketika diminta oleh orang lain yang sangat mengagumi dan mencintainya. Yudhistira adalah lambang dari pria yang teguh hati, penyabar dan suka perdamaian. Sangat setia terhadap isteri, anak dan keluarganya. Yudhistira sangat benci terhadap permusuhan. Walaupun bermandi harta, Yudhistira menentang poligami, sehingga isterinya hanyalah satu, Dyah Ayu Drupadi. Ketika muda, Yudhistira gemar berbusana yang indah-indah, tetapi setelah tua dia justru berpenampilan sederhana.

2. Arjuna (Lananging Jagad)
Nama Arjuna konon berasal dari kata Jun yang bermakna jambangan. Konon, nama Janaka juga berasal dari Bahasa Arab Jannah yang berarti sorga. Kedua kata tersebut mengandung makna hening atau keheningan. Arjuna memiliki sifat dan watak fitrah, murni. Tak sedikit wanita yang kasmaran kepadanya. Wujud ketampanan Sang Arjuna adalah lambang kehalusan serta keagungan budi seorang pria. Arjuna juga dikenal menyukai sesuatu yang bersifat estetis, asri, sangat sensitif jiwanya, dan lembut hatinya. Sang Arjuna sulit mengucap kata ‘tidak’ dan kata ‘jangan’, khususnya terhadap kaum wanita. Di situlah kelemahan Sang Arjuna, maka tak sedikit wanita yang sangat merindukannya, walau mereka telah bersuami.

3. Kresna (Politikus)
Ketika muda, Kresna bernama Narayana. Ia kemudian menjadi raja di Dwarawati. Meskipun secara fisik pria ini berkulit hitam, berdarah hitam dan berdaging hitam, tetapi Kresna tidak ‘hitam’ ulahnya. Kresna adalah lambang pria yang ramah, mudah bergaul, supel, banyak kawan, dan suka bercanda (humor). Ketika memberi fatwa, ia menggunakan berbagai sindiran yang begitu lembut, sehingga yang dinasihati tidak merasa sakit hati. Kresna banyak didatangi sahabat tua-muda dan pria-wanita, untuk sharing atau konsultasi. Umumnya, sepulang dari konsultasi dari Dwarawati, para ‘relasi’ Kresna pulang dengan menggenggam semangat. Kresna memang terkenal sangat strategis dalam menghadapi keluhan para ‘klien’-nya. Kresna memiliki karier yang sulit ditandingi, terlebih di bidang politik. Di mata sesamanya, Kresna memiliki wibawa yang sangat tinggi dan pengaruh yang luar biasa. Dedikasi dan loyalitasnya sangat oke, karena itulah semua anak buah Kresna patuh kepadanya. Dalam rumah tangga, Kresna tidak mengecewakan. Walaupun beristeri tiga orang, Kresna sangat adil. Nasihat yang terkenal dari Kresna kepada para isterinya ialah, agar mereka mengedepankan rasa kemanusiaan dan mengesampingkan busana glamour.

4. Drestharastra (Gagal Membina Isteri)
Drestharastra adalah saudara tua dari keluarga Pandawa, bibit darah Pandawa. Ketika Pandhu mangkat, singgasana kerajaan diambil alih oleh Drestharastra, sehingga Pandawa Lima tersingkir. Sebenarnya, Drestharastra memiliki watak agung budi, sabar dan suka mengalah. Tetapi karena terbawa oleh watak isteri tercintanya yang bengis dan ambisius, yang bernama Gandari, maka watak yang sabar, dan suka mengalah tersebut justru dimanfaatkan oleh Sang Gandari, untuk menyetir sang suami, agar sang suami mengikuti seluruh kehendaknya. Drestharastra bisa digambarkan sebagai lambang suami yang terkalahkan dan disetir sang isteri. Maka tidak mustahil jika watak Drestharastra, belakangan berubah. Tak mustahil pula kalau orang-orang yang bekerja pada Drestharastra, jarang yang betah lama, karena Gandari menganggap hina setiap orang yang menghamba kepada Drestharastra. Demikian juga kepada keluarga sang suami. Drestharastra sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Gandari memang cantik, tetapi ia berwatak iri, dengki, semena-mena, dan mudah terhasut. Semua perwatakan itu sangat mempengaruhi watak Drestharastra. Bahkan anak-anak Drestharastra yang berjumlah 100 orang, tak ada satupun yang bisa dijadikan teladan.

5. Bima (Si Mahal Cinta)
Keperkasaan pria bernama Bima tentu sudah tidak diragukan lagi. Watak Bima memang sangat jauh dari watak angkuh dan sombong, walau dikaruniai kekuatan yang luar biasa. Bima sangat tinggi rasa sayangnya terhadap orang tua dan saudara. Bima juga terkenal jujur kalau berbicara, bahkan tidak pernah berbohong. Namun Bima kurang suka sesuatu yang bersifat formal. Sang Bima selalu bersikap teguh memegang prisip, tidak gampang terhasut atau dipengaruhi dengan apapun, walau si penghasut mempergunakan berbagai jurus dan cara. Bima juga memiliki tenggang rasa yang sangat dalam terhadap siapapun, sehingga ia akan serta-merta memberi pertolongan kepada siapapun yang sedang dilanda musibah dan kesusahan. Ia juga sangat kuat berpegang pada sariat agama dan paugeran kenegaraan. Bima adalah sosok patriotis yang selalu setia kepada lingkungannya dan negerinya sendiri. Dalam komunikasi sosial, Bima dikenal sangat menghormati kaum wanita. Bima juga bukan tipe pria ‘mata keranjang’. Ketika dia tertarik dan memperisteri Dewi Arimbi, semata-mata ia tertarik pada keluhuran budi dan keagungan sang Dyah Ayu.

6. Durna (Paranormal Pengeruk Keuntungan)
Ketika mudanya, Durna bernama Bambang Kumbayana. Waktu itu Resi Durna begitu tampan dan ganteng. Bambang Kumbayana selalu berbusana mewah, sehingga penampilannya sangat meyakinkan. Tetapi karena wataknya yang hadigang-hadigung, maka wajahnya berubah menjadi tidak karuwan setelah dihajar habis-habisan oleh musuhnya. Resi Durna memang selalu berkostum jubah paranormal (Jw: Pandhita), tetapi perilakunya sangat nista dan hina. Durna dikenal dengan watak ‘bermuka dua’. Pria yang tidak berpendirian kuat dan penuh prasangka buruk, walau ia mengklaim dirinya sebagai ‘paranormal’. Durna juga dikenal sangat suka mendatangi para muridnya, karena di sana akan dihormati oleh murid-murid dan keluarganya. Semua kebutuhannya disediakan, bahkan kadang ia minta dijemput oleh para Korawa. Di balik jubahnya itu, Durna justru tega memanfaatkan setiap orang yang minta pertolongan, untuk kepentingan Durna sendiri. Bahkan ia tega memanfaatkan kesusahan ‘klien’-nya untuk kesenangan pribadi Durna sendiri. Meskipun demikian Durna sering bercerita tentang keberhasilannya dalam menolong sesama, sehingga para tamunya terbius oleh bujukannya. Ia madeg sebagai paranormal, memang hanya untuk mengeruk keuntungan. Namun resminya, Durna adalah penasihat spiritual Astina dan Pandawa.

7. Semar (Pembantu Bijaksana)
Jika pembaca adalah wanita, dan bersuamikan seorang pria yang sangat pandai mengasuh dan amat bijaksana, itu berarti tak jauh berbeda dengan karakteristik Sang Semar. Walau hanya seorang punakawan, sebenarnya Semar adalah turunan dari bangsawan, bahkan saudara Sang Hyang Guru Nata (dewa dari seluruh dewa) di Kahyangan. Walaupun Semar dikenal sebagai orang papa, ia memiliki insting yang sangat tajam, intuitif, dan memiliki watak kedewaan. Semar senantiasa adil dan bijak dalam memutuskan setiap masalah atau perkara. Bila diperintah menumpas keangkaramurkaan, Semar akan memperlihatkan kesejatian dirinya. Akan tetapi dalam keseharian, Semar selalu berpenampilan sebagai sosok titah sawantah belaka. Isteri Semar adalah Dewi Kanistri, yang selalu ditinggal pergi karena panggilan tugas mulia sang suami dalam menghamba kepada pemimpin dan bangsanya. Kehidupan keluarga Semar lebih mengedepankan lakutama daripada gemerlap duniawi.

8. Baladewa (Mudah Marah, Mudah Memaafkan)
Waktu mudanya, Baladewa bernama Raden Kakrasana, kakak Prabu Kresna. Baladewa berkulit putih kemerahan seperti turis (bule). Ia adalah lambang pria yang suka bersemedi, suka pati raga dan tirakat. Ia lebih banyak berkecimpung di dalam dunia ilmu ghaib. Waktu yang lain dimanfaatkan untuk berkiprah di bidang olah kaprajan, juga menempa strategi berperang. Baladewa memiliki watak sangat menyayangi keluarganya, terlebih kepada saudara perempuannya, Dyah Ayu Sembadra. Kemanapun pergi, Sembadra senantiasa dalam pengawalan Baladewa. Karakter yang menonjol dari Baladewa adalah mudah marah tapi juga mudah memberi maaf kembali. Hubungan kekeluargaan dengan Pandawa memang sedikit renggang, karena Baladewa banyak bermukim di Astina. Tetapi Baladewa juga serta-merta hijrah dari Astina, setelah mengetahui bahwa keluarga Astina telah melenceng dari kesepakatan dan pesan para leluhur. Baladewa bisa dilambangkan sebagai gambaran sosok pria yang setiap bertindak selalu serampangan, tanpa dipikir panjang terlebih dahulu, akhirnya justru malu sendiri setelah ketahuan kekeliruannya. Kelebihan lain dari Baladewa adalah berani mengakui secara jantan atas kekeliruan dan kekhilafannya.

nah, mungkin itu yang bisa aku bagi.semoga bermanfaat dan bahan ajaran buat kita semua.
Selengkapnya →