Tampilkan postingan dengan label seniman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seniman. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Juni 2013

(book riview) Filosofi Kopi By Dewi ''dee'' Lestari

 

Judul Buku  : Filosofi Kopi
Pengarang  : Dewi “Dee” Lestari
Penerbit  : Penerbit Bentang
Tahun Terbit  : 2012
Tebal : 142 Halaman
Terdiri dari prosa dan cerita yang ditulis Mbak Dee dari tahun 1995-2005. Karena buku ini berisi 18 judul prosa dan cerita, saya hanya akan mengulas cerita yang saya suka.


FILOSOFI KOPI

Ben dan Jody, pemilik kedai kopi yang awalnya bernama Kedai Koffie BEN & JODY dan kemudian berubah nama menjadi Filosofi Kopi dengan slogan “Temukan Diri Anda di Sini”. Sejak penggantian nama dan slogannya, kedai mereka menjadi populer. Yang datang bukan hanya penggemar kopi, tapi juga orang-orang yang penasaran ataupun grup penggila filsafat yang lebih menikmati berbincang dengan Ben, sang barista.
Dengan ide-ide Ben yang kreatif, kedai kopi mereka semakin memiliki banyak pelanggan setia. Suatu hari Ben mendapat tantangan dari seorang pengusaha kaya. Ben ditantang untuk membuat kopi yang sempurna dengan imbalan 50 juta. Setelah bekerja keras, akhirnya Ben berhasil membuat racikan kopi yang sempurna dan memenangkan tantangan dari pria kaya itu. Kopi yang sempurna itu diberi nama Ben’s Perfecto.
Ben’s Perfecto menjadi primadona dan menjadi menu yang paling banyak dibeli. Ben merasa sangat puas dengan hasil kerja kerasnya, sampai suatu hari seorang pria setengah baya datang ke Filosofi Kopi dan memesan Ben’s Perfecto. Ben terpukul karena pria setengah baya itu mengatakan kalau ada kopi yang lebih enak dari Ben’s Perfecto. Berbekal rasa ingin tahu, Ben mengajak Jody ke pedesaan yang ditunjuk pria itu untuk mencicipi kopi yang disebut-sebut lebih enak dari Ben’s Perfecto.

MENCARI HERMAN
Seorang Aku yang tidak menyebutkan namanya bercerita tentang Hera, adik temannya. Hera punya obsesi aneh. Hera ingin mencari seseorang yang bernama Herman. Ya, Hera tidak pernah punya kenalan yang bernama Herman. Nama Herman sejati, tidak pakai embel-embel “to”, “syah”, ataupun yang punya unsure ke-“herman-herman”-an dalam namanya.
Sampai kuliah kedokteran pun Hera masih berusaha mencari sang Herman. Hingga akhirnya dia hamil di luar nikah. Tentu saja bukan dengan seorang Herman. Hidup Hera akhirnya hancur. Dan, setelah pulih lahir batin, Hera ingin jadi seorang pramugari.
Menjadi pramugari tak membuat hidup Hera membaik. Dia malah menjadi simpanan seorang pilot sehingga membuat keluarganya menjauhi dia. Hidupnya semakin hancur, dan semakin jauh kemungkinan untuk bertemu seorang Herman. Dengan ending yang tragis, cerita ini membuktikan bahwa pepatah “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan” benar adanya.

RICO DE CORO
Rico, seorang kecoak ningrat dan merupakan pangeran kecoak jatuh cinta pada manusia yang bernama Sarah. Sarah merupakan keluarga tempat Rico dan pasukan kecoak lainnya tinggal. Tapi tentu saja kisah cinta ini tidak akan pernah bisa berjalan mulus. Rintangan yang paling berat adalah Sarah sang pujaan hati takut pada spesies yang bernama kecoak.
Cinta Rico pun semakin mustahil ketika terjadi perburuan besar-besaran kecoak oleh keluarga Sarah. Yang membuat sang raja, Ayah Rico geram adalah karena rakyat-rakyatnya dibunuh untuk dijadikan makanan ikan arwana peliharaan Papa Sarah.
Sang raja memutuskan untuk membalas dendam dengan bantuan seekor spesies kecoak baru hasil persilangan berbagai serangga. Lalu bagaimana nasib kisah cinta Rico dengan Sarah? Baca sendiri cerita yang kocak dengan ending tragis ini.

THE REVIEW
Cerita-cerita di buku ini enak dibaca, mudah dipahami dan punya tema unik seperti karya Mbak Dee yang lainnya. Selain cerita-cerita diatas ada juga cerita lain seperti, Sikat Gigi, Sepotong Kue Kuning, Lara Lana dan Buddha Bar.
Sebenarnya semua isi buku ini menarik untuk dibaca. Tapi, menurut saya ketiga cerita diatas yang paling berkesan. Contohnya Lara Lana, cerita ini benar-benar mengejutkan. Awalnya saya pikir Lana itu seorang… ternyata…
Untuk bagian prosa sendiri saya tidak bisa menceritakannya karena  terlalu pendek dan bermakna luas. Jadi, sebaiknya baca sendiri bukunya .
Akhirnya, dengan selesainya baca buku ini lengkap sudah karya-karya Mbak Dee yang saya baca. Bukunya sangat ringan tapi berisi, persis seperti karya Mbak Dee yang saya baca sebelumnya, Madre.

MEMORABLE QUOTES
  • “Kopi Tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk. Bukan cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. Bodoh! Bodoooh!” Hal. – 23
  • “Pepatah bukan sekedar kembang gula susastra. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk memformulasikannya. Dibutuhkan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang santai ke tepian. Dibutuhkan orang yang tersungkur jatuh dan harus tertimpa tangga. Dibutuhkan sebelanga susu hanya untuk dirusak setitik nila. Dibutuhkan seorang Hera yang mencari Herman.” Hal. – 31
  • “Larilah dalam kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan begitu, kita mampu memperbudak waktu. Melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu.” Hal. – 71
  • “Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.” Hal. - 99 
Selengkapnya →
Rabu, 12 Juni 2013

Mengenal Sang Kiyai Yang Juga Seniman, KH. Achmad Mustofa Bisri

Kiyai, penyair,novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini telah memberi
warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama.Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius. Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.

     Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944,dengan nama lengkap Achmad Mustofa Bisri, Beliau dari keluarga santri. Kakeknya, Kyai Mustofa Bisri adalah seorang ulama. Demikian pula ayahnya, KH Bisri Mustofa, yang tahun 1941 mendirikan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin.
Ia dididik orangtuanya dengan keras apalagi jika menyangkut prinsip-prinsip agama. Namun, pendidikan dasar dan menengahnya terbilang kacau. Setamat sekolah dasar tahun 1956, ia melanjut ke sekolah
tsanawiyah. Baru setahun di tsanawiyah, ia keluar, lalu masuk Pesantren Lirboyo, Kediri selama dua tahun. Kemudian pindah lagi ke Pesantren.

     Ia lalu kembali ke Rembang untuk mengaji langsung diasuh ayahnya.KH Ali Maksum dan ayahnya KH Bisri Mustofa adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya. Kedua kiyai itu memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.
    Kemudian tahun 1964, dia dikirim ke Kairo, Mesir, belajar di Universitas Al-Azhar, mengambil jurusan studi keislaman dan bahasa Arab, hingga tamat tahun 1970. Ia satu angkatan dengan KH Presiden Republik
Indonesia Keempat (1999-2001)Abdurrahman Wahid (Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)Gus Dur).
    Menikah dengan Siti Fatimah, ia dikaruniai tujuh orang anak, enam di antaranya perempuan dan satu laki-laki. Anak lelaki satu-satunya adalah si bungsu Mochamad Bisri Mustofa, yang lebih memilih tinggal di Madura dan menjadi santri di sana.
    Setelah abangnya KH Cholil Bisri meninggal dunia, ia sendiri memimpin dan mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, didampingi putra Cholil Bisri. Pondok yang terletak di Desa Leteh, Kecamatan
Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 115 kilometer arah timur Kota Semarang, itu sudah berdiri sejak tahun 1941.


Karya Puisi-puisi Gus Mus

BILA KUTITIPKAN

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung

Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai

Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang

Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api. Tapi

Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku

Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku

Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut pahamku

Kusimpan sendiri.

Sajak Cinta

Sajak Cinta
cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet si majnun qais kepada laila
belum apa-apa
temu pisah kita lebih bermakna
dibanding temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam
dan Hawa
aku adalah ombak samuderamu
yang lari-datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir sampai badai anginmu
aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
huruf-huruf katamu
kata-kata maknamu
aku adalah sinar silau panasmu
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu
aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu
aku adalah a-k-u
k-a-u
mu

A. Mustofa Bisri
Rembang, 30.9.1995


Aku tak akan memperindah kata-kata

Karena aku hanya ingin menyatakan
Cinta dan kebenaran
Adakah yang lebih indah dari
Cinta dan kebenaran
Maka memerlukan kata-kata indah?



Bagimu

Bagimu kutancapkan kening kebangganku pada rendah tanah
Telah kuamankan sedapat mungkin imanku
Kuselamat-selamatkan islamku
Kini dengan segala milikmu ini
Ku serahkan kepadamu, Alloh
Terimalah

Kepala bergengsi yang terhormat ini
Dengan kedua mata yang mampu menangkap gerak-gerik dunia
Kedua telinga yang dapat menyadap kersik-kersik berita
Hidung yang bisa mencium wangi parfum hingga borok manusia
Mulut yang sanggup menyulap kebohongan menjadi kebenaran
Seperti yang lain
Hanyalah seper sekian percik tetes anugerahmu
Alangkah amat mudahnya Engkau melumatnya, Alloh
Sekali engkau lumat terbanglah cerdikku
Terbanglah gengsiku
Terbanglah kehormatanku
Terbanglah kegagahanku
Terbanglah kebanggaanku
Terbanglah mimpiku
Terbanglah hidupku
Alloh
Jika terbang, terbanglah
Sekarang pun aku pasrah
Asal menuju haribaan rahmatmu
Selengkapnya →
Selasa, 11 Juni 2013

Ambang Cakrawala Karya Amang Rahman

 Biografi


   H.Amang Rahman Jubair lahir tanggal 21 November 1931, di Ampel, Surabaya dari pasangan seorang keturunan Arab dan ibunya orang Jawa berasal dari daerah Jambe Kemantren, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebagai putra keempat dari 13 orang bersaudara dalam lingkungan keluarga yang taat beragama, Amang pada masa kecilnya mendapat pengaruh kuat kebudayaan Islam di Jawa yang diperoleh dari cerita maupun petuah dari kakek neneknya, keluarga, masyarakat, lingkungannya maupun kawan sebaya sepermainannya. Pengaruh ini berlanjut terus hingga usia remaja. Dia sangat akrab dengan al-Quran, berbagai surau, mesjid bahkan gemar pula mengunjungi berbagai makam terutama karena tertarik untuk berziarah atau menyaksikan nisan antik yang bertuliskan huruf Arab maupun huruf Jawa yang pada saat itu dianggap menarik dan unik. Sejalan dengan usahanya memperdalam bidang seni rupa, Amang pun terus
menekuni serta mengembangkan wawasannya di bidang kesenian lainnya. Antara lain dengan membaca di perpustakaan, berdiskusi dengan rekan seniman lainnya, dari Surabaya maupun dari kota lainnya di Indonesia, seniman tradisional maupun modern. Kecintaannya dalam dunia kesenian telah dibuktikan olehnya dalam bentuk puisi, penulisan kritik sastra serta karya lukisannya.
             Latar belakang yang diawali sejak masa kecil maupun pengalaman religi serta berbagai pengalaman hidupnya sehari-hari telah membangun secara bertahap dan terus memperkaya wawasan Amang Rahman dalam karya lukisannya. Penjelajahan dan pengembaraan ruang kehidupan manusia baik jasmani maupun rohani membentuk alam kesadaran Amang yang dimanifestasikan pada penguasaan ruang kanvas lukisan-lukisannya.
Jejak ini dapat disaksikan pada setiap lukisan Amang, terutama di dalam meletakkan obyek serta komposisinya  yang esensial yaitu : alur horizontal, vertikal dan diagonal. Pilihan obyek utamanya sederhana. Sosok manusia, paling sedikit 2 dan paling banyak 9 figur dalam pola bentuk dan posisinya dilakukan pengulangan.
             Penampilan unsur warna pada setiap lukisan Amang didominasi oleh pilihan warna biru, hijau, kuning dan hitam dengan nuansa dari keempat warna pilihannya itu. Berlanjut pada efek warna yang menyiratkan cahaya merupakan esensi dari keutuhan tema sentral. Pada penggunaan unsur garis, hampir setiap lukisan Amang bersifat efisien berupa kontur yang fungsional malah pada kebanyakan karyanya penampilan unsur garis sebagai maksud bayangan dibangun dengan batas pertemuan kontras warna yang berbeda.
           Amang Rahman lebih puas menggunakan jari-jarinya termasuk telapak atau punggung tangannya sebagai pengganti kuas dan pisau pallet untuk melukis, kadang-kadang menggunakan kain serbet untuk menghapus atau mencampur warna langsung keatas kanvas. Hasil produk kerja seperti itu, menjadikan wajah kanvas tidak kasar, perubahan nuansa warna menjadi halus dan bentuk obyeknya menjadi datar seperti halnya lukisan yang dekoratif dua dimensional.
              Karya lukisan Amang Rahman didasari oleh keluasan wawasan, aneka ragam pengalaman hidup lahir batin serta perenungan selaku insan yang beriman Islam telah melahirkan sikap hidup yang bersahaja, arif dan bijaksana dalam menghadapi dan mengatasi kehidupan di dunia fana ini. Beberapa unsur seperti keyakinan terhadap diri sendiri, pengalaman beragama yang kian mempertebal iman Islam, memahami hakekat hidup serta menghayati secara total dalam berkesenian telah diraih dan direfleksikan pada sebagian lukisan Amang Rahman Jubair, khususnya pada karyanya yang non-kaligrafis.
            Sang pelukis itu, meninggal tanggal 15 Januari 2000. Agak mengejutkan meski setiap orang siap melepas lelaki sepuh itu. Yang selalu bersungguh-sungguh, dan selalu hadir menyapa berkomunikasi dengan lelucon-leluconnya.
            Yang mengejutkan ketika seniman sahabat orang banyak itu ditinggalkan banyak orang saat menyelenggarakan "Pameran Lukisan 70 Tahun" dan diskusi buku Ambang Cakrawala: Monografi Seni Lukis Amang Rahman. Acara di Museum Nasional Jakarta, 2001, hanya dihadiri sedikit pengunjung. Kontras dengan pameran-pameran yang diselenggarakan ketika ia masih hidup, acara "Mengenang Amang Rahman Jubair", yang diselenggarakan di Balai Pemuda, Surabaya, 28 November - 3 Desember 2005 lalu juga mengalami hal yang sama.
            "Mengenangkan Amang Rahman Jubair" adalah mengenang sebuah kafe terbuka, dengan meja dan kursi di teras, yang berhubungan langsung dengan kesibukan dan lalu lintas kota. Di mana orang-orang berkumpul dan berbicara sambil memesan segelas kopi, sepiring bakmi atau nasi goreng, dan dengan ditemani sebungkus rokok. Berjam-jam bicara, tak peduli pesanan habis, dan karenanya terpaksa memesan lagi - karena obrolan tak ada habisnya, dan keceriaan terus-terusan berhamburan.
            Mungkin karena hanya warung lesehan, di mana tikar khusus digelar di tempat yang agak jauh dari warung, tempat para pembeli datang dan pergi. Sementara seorang Amang Rahman Jubair terus berbicara dan terus menghamburkan cerita lucunya. Momen di mana waktu seperti berhenti menggelar kesulitan ekonomi, problem politik, dan utamanya tantangan kreatif penciptaan.
             Tapi waktu tidak berhenti meski seperti alpa menggelar kenyataan ketika kita bertemu dan berkumpul dengan Amang Rahman Jubair - yang ke luar dari studio dan jadi si manusia yang melupakan tantangan kreatif dan mungkin juga kesulitan ekonomi. Aspek ini yang terkadang melekat dan teringat oleh siapa pun yang pernah bertemu dan berbicara dengannya. Semesta alpa yang menyenangkan di tengah tantangan berkesenian yang kejam - bahkan tak peduli, karena saat itu boom lukisan dihargai mahal belum terbentuk.
           Dalam esei lain ,ia melukiskan situasi simalakarma itu dengan mengutip sebuah cerpen yang tak lagi saya ingat judulnya. Cerpen yang menceritakan seorang pelukis yang berkonsentrasi melukis dan berhasil membuat lukisan-lukisan fenomenal. Sehingga rumah dan studionya yang sunyi tak diperhatikan orang jadi jujugan pelukis muda yang berkonsultasi dan berdiskusi. Hal itu membuat si pelukis merasa tersanjung dan sekaligus merasa terganggu karena tak lagi sempat bersunyi dan konsentrasi melukis. Cerpen itu diakhiri dengan klimaks yang tragik-dramatik. Si pelukis bunuh diri di depan kanvas kosong, yang hanya berisi coretan satu kata, yang mungkin bermakna solider dan bisa jadi soliter. Menjadi pelukis itu tidak cukup hanya kreatif melukis, dan masyarakat mengakui kualitas dari lukisannya dengan tak perlu dibebani tugas-tugas sosial di luar keahliannya. Atau harus melayani kehendak masyarakat dengan tugas ini-itu di luar minat kreatifnya.
            Bagi Amang Rachman Jubair berkesenian adalah masalah pilihan dan karenanya ia berkonsentrasi kepada obsesi tematik dan masalah estetik ekspresi simbolik lukisannya. Dan kita menemukan corak lukisan yang khas, panorama semesta yang dibuat berlapis dan bertingkat-tingkat sehingga suasana sunyi dan mistis jadi dominan dengan satu atau beberapa figur ditinggalkan sendiri dalam kesepian dan siksaan rindu di tengah keluasaan kosong, dan satu matahari atau bulan yang menjadi sumber dari keberadan - karena segalanya jadi tampak ada karena diterangi.
           Ada keterpencilan saat di cafe tersebut. Ada perasaan ngungun karena ditinggalkan di sana - ditinggalkan di tengah segala yang tak bermakna dan tak substansial karena semua itu hanya menggejala karena disinari Yang Tunggal. Dan karenanya ada sikap tawakal menerima segala yang digariskan. Ada sikap takwa dan tawadhu dari seseorang yang percaya, mengakui, dan berserah diri dalam menjalani segalanya - dengan usaha yang bertumpu pada mencari ridha-Nya. Pencapaian mistis yang diungkapkan dengan tehnik yang khas.
          Teknik yang matang meski tidak akademis karena dibangun dari kemauan belajar seorang otodidak - dan kerja keras tidak kenal lelah. Tapi hal itu jadi lumer kalau kita bertemu dengan Amang Rahman Jubair di luar studio dan kesuntukannya sebagai pelukis yang gigih dan pantang mundur. Yang bersiteguh mencari ciri khas sehingga lukisannya jadi ikon lukisan Amang Rahman Jubair yang langsung merujuk ke diri seorang Amang Rahman Jubair saja.
           Di luar itu ia adalah warung lesehan, dengan segelas kopi, sebungkus rokok, dan tertawa panjang yang membuat waktu surut dan tidak berani menunjukkan realitas keseharian yang penuh dengan kesulitan ekonomi, problema politik dan ter-utama tantangan kreatif penciptaan. Tapi waktu itu tak benar-benar abai dan alpa, karena ia tetap teringat pada kewajiban pokoknya,yaitu menghadirkan manusia dan menghilangkan manusia dari kehadiran nyata berserentakan di dunia.
Amang Rahman Jubair pun memenuhi panggilan itu - mungkin juga pembe-basan dari keberadaan dalam semesta keterasingan, yang ada akibat pancaran terang dari Yang Mengadakan, dan karenanya ia akan diserap atau terserap lagi ke dalam Yang Utama. Persis seperti puisi "Kepastian", ditulis 1975, yang berbunyi: Dalam hidup ini, ada satu yang pasti yaitu mati. Sebuah puisi yang menolak simbol, imaji, dan reka bunga bahasa. Sebuah kerja kreatif yang menolak kehadiran yang semu penuh gincu dan hiasan estetik, dan melulu menghadirkan yang substansial, yang inti.
            Dan sebelum hal itu sampai, yang ada adalah kerja keras kreatif, penuntasan kewajiban seorang suami dan ayah, serta waktu luang untuk mentertawakan segala hal yang semu dan tidak substansial. Dan karenanya, mengikuti simbolisasi sebuah "Sajak Ibunda" Rendra: Amang Rahman Jubair itu warung lesehan dengan segelas kopi, sebungkus rokok, dan obrolan intim yang penuh kegembiraan.
            Kegiatan lain selain melukis adalah: Pengasuh Yayasan Pendidikan Kesenian Surabaya (sejak tahun 1967), Mendirikan Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA), Sekretaris Dewan Kesenian Surabaya (DKS, 1971), Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS, 1984).


Lukisan Amang Rahman Beserta Judul Dan Tahunnya 


                                                                 
                                                                  Penghianatan,1986


                                                           MataRembulan dan hari 1968
                                               

                                                                 Undangan,1968


                                                             Bahtera Kehidupan,1970


                                                              Pohon Kehidupan,1970


                                                       Wajah-wajah Kehidupan,1970     
                                             


                                                                Pohon Hayat,1974


                                                                         Nenek,1976


                                                             Pohon Kehidupan,1979

                                                              Tujuh Bidadari,1983


                                                 Salamun Qoula Min Robbi Rokhim,1984


                                                                    Ibundaku,1989


                                                        Sebelum Gerhana Bulan,1990


                                                                Semua.....Kita,1990


                                                        Yaa Rohman Yaa Rohim,1991


                                                            An-Nashr, Ayat 3,1991


                                                         Impresi Sebuah Lagu, 1992


                                                          Impresi Dua Figur 1, 1992


                                                              Kasih Sayang, 1992

                                                       Monumen Yang Sunyi , 1992


                                                          Laa Illaaha Illallah,1995


                                            Mendekap Rembulan Berselimut Awan, 1994


                                                                  Pohon Hayat,1996


                                                               Potret Diri,1996


                                                               Sebuah Doa, 1997


                                                                     Renungan,1997


                                                            Terang- teranglah 1999


                                                             Puncak-puncak, 1999


                                                 Antara Kayu Tanam-Bukit Tinggi,2000


                                                 Dzikir sambat (ya rohman ya rohim) 2000


Dan masih banyak lagi lukisan-lukisanya. Semoga beliau dan karyanya menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi kita semua....
Selengkapnya →
Minggu, 09 Juni 2013

Ngawur Karena Benar Oleh Sujiwo Tejo

Ngawur Karena Benar “Berani karena benar" sudah tidak spesial lagi. Sekarang yang spesial adalah "ngawur karena benar". Sujiwo Tejo menghidangkan hal-hal yang spesial dalam buku ini.

Bak martabak spesial, tepatnya martabat dari kengawuran yang berfondasi kebenaran. Jurus-jurus terakhir bagi kita setelah mentok pada jurus-jurus lain yang konon sistematis, santun, dan berbudi pekerti. Setelah kita endus bahwa di balik kedok tertata, sopan, dan bertata krama itu ternyata adalah kepalsuan, ketika itulah ngawurisme bermula.

Berbahan bakar urakan. Urakan berbeda dari kurang ajar. Urakan melanggar aturan termasuk aturan berpikir demi mengikuti hati nurani. Kurang ajar melanggar aturan hanya demi melanggar. Wahai jiwa yang hangat, selamat datang di alam ngawur.

“Normalnya, melihat kengawuran itu menyebalkan. Namun, saat yang disebut normal itu justru merusak akal sehat, lalu kita mau apa? Di sinilah mengapa seorang Sujiwo Tejo ada. Ia berani ngawur, menabrak batas normal yang sering penuh kepalsuan.” Rosianna Silalahi, TV Host, Praktisi Media, Pendiri RoSi Inc

Buku Ngawur karena Benar semoga menjadi pertanda "insight" yang membaik, dan bisa menjadi salah satu resep untuk memelihara kesehatan jiwa bangsa Indonesia tercinta.” NOva RIyanti YUsuf, Penulis, Psikiater, Perempuan di Parlemen

"Tulisan yang mengalir dan terasa kengawurannya dengan nyata. Mengacak-ngacak pikiran ke arah yang benar."
Selengkapnya →
Sabtu, 25 Mei 2013

Si burung Merak

WS.Rendra yang dijuluki “Si Burung Merak” adalah salah satu penyair dan budayawan terbaik...

Rendra yang dijuluki “Si Burung Merak” adalah salah satu penyair dan budayawan terbaik yang dimiliki negeri ini rendra dilahirkan di solo 7 november 1935. Mula-mula ia bernama Willibrodus Surendra Broto, namun setelah memeluk islam ia merubah namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. W.S. Rendra wafat pada Kamis, 6 Agustus 2009, pukul 22.30 karena sakit.

Gambar W.S. Rendra sang penyair puisi
 Gambar W.S. Rendra sedang Berpuisi
Pengaruh WS Rendra dalam kesusastraan indonesia begitu dahsyat. Karya-karyanya seperti drama Orang-orang di Tikungan Jalan, Selamatan Anak Cucu Sulaiman hingga Kasidah Barzanji dan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta, Sajak-sajak Sepatu Tua,  Mencari Bapak, Potret Pembangunan Dalam Puisi dan masih banyak lagi, menjadi pijakan dalam dunia sastra indonesia.
Berikut salah satu puisi rendra yang terkenal yang berjudul “Lautan” :    
gambar rahasia keindahan lautan   
Gambar Rahasia Keindahan lautan      


Daratan adalah rumah kita
dan lautan adalah kebebasan
langit telah bersatu dengan samudra
dalam jiwa dan dalam warna

Ke segenap arah 
berlaksa-laksa hasta
di atas dan di bawah
membentang warna biru muda
tanpa angin
mentari terpancang
bagai kancing dari tembaga

Tiga buah awan yang kecil dan jauh
berlayar di langit dan di air
bersama dua kapal layar
bagai sepasang burung camar
dari arah yang berbeda

Sedang lautan memandang saja
dihadapan wajah lautan
nampak diriku yang pendusta

Disini semua harus telanjang
bagai ikan di lautan
dan burung di udara
Tak usah bersuara !
Janganlah bersuara !
Suara dan kata terasa dena

Daratan adalah rumah kita,
dan lautan adalah rahasia

Selengkapnya →