Biografi
H.Amang Rahman Jubair lahir tanggal 21 November 1931, di Ampel, Surabaya dari
pasangan seorang keturunan Arab dan ibunya orang Jawa berasal dari
daerah Jambe Kemantren, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebagai putra
keempat dari 13 orang bersaudara dalam lingkungan keluarga yang taat
beragama, Amang pada masa kecilnya mendapat pengaruh kuat kebudayaan
Islam di Jawa yang diperoleh dari cerita maupun petuah dari kakek
neneknya, keluarga, masyarakat, lingkungannya maupun kawan sebaya
sepermainannya. Pengaruh ini berlanjut terus hingga usia remaja. Dia
sangat akrab dengan al-Quran, berbagai surau, mesjid bahkan gemar pula
mengunjungi berbagai makam terutama karena tertarik untuk berziarah atau
menyaksikan nisan antik yang bertuliskan huruf Arab maupun huruf Jawa
yang pada saat itu dianggap menarik dan unik. Sejalan dengan usahanya
memperdalam bidang seni rupa, Amang pun terus
menekuni serta mengembangkan wawasannya di bidang
kesenian lainnya. Antara lain dengan membaca di perpustakaan, berdiskusi
dengan rekan seniman lainnya, dari Surabaya maupun dari kota lainnya di
Indonesia, seniman tradisional maupun modern. Kecintaannya dalam dunia
kesenian telah dibuktikan olehnya dalam bentuk puisi, penulisan kritik
sastra serta karya lukisannya.
Latar belakang yang diawali sejak masa kecil maupun
pengalaman religi serta berbagai pengalaman hidupnya sehari-hari telah
membangun secara bertahap dan terus memperkaya wawasan Amang Rahman
dalam karya lukisannya. Penjelajahan dan pengembaraan ruang kehidupan
manusia baik jasmani maupun rohani membentuk alam kesadaran Amang yang
dimanifestasikan pada penguasaan ruang kanvas lukisan-lukisannya.
Jejak ini dapat disaksikan pada setiap lukisan Amang, terutama di dalam
meletakkan obyek serta komposisinya yang esensial yaitu : alur
horizontal, vertikal dan diagonal. Pilihan obyek utamanya sederhana.
Sosok manusia, paling sedikit 2 dan paling banyak 9 figur dalam pola
bentuk dan posisinya dilakukan pengulangan.
Penampilan unsur warna pada setiap lukisan Amang didominasi
oleh pilihan warna biru, hijau, kuning dan hitam dengan nuansa dari
keempat warna pilihannya itu. Berlanjut pada efek warna yang menyiratkan
cahaya merupakan esensi dari keutuhan tema sentral. Pada penggunaan
unsur garis, hampir setiap lukisan Amang bersifat efisien berupa kontur
yang fungsional malah pada kebanyakan karyanya penampilan unsur garis
sebagai maksud bayangan dibangun dengan batas pertemuan kontras warna
yang berbeda.
Amang Rahman lebih puas menggunakan jari-jarinya termasuk
telapak atau punggung tangannya sebagai pengganti kuas dan pisau pallet
untuk melukis, kadang-kadang menggunakan kain serbet untuk menghapus
atau mencampur warna langsung keatas kanvas. Hasil produk kerja seperti
itu, menjadikan wajah kanvas tidak kasar, perubahan nuansa warna menjadi
halus dan bentuk obyeknya menjadi datar seperti halnya lukisan yang
dekoratif dua dimensional.
Karya lukisan Amang Rahman didasari oleh keluasan wawasan,
aneka ragam pengalaman hidup lahir batin serta perenungan selaku insan
yang beriman Islam telah melahirkan sikap hidup yang bersahaja, arif dan
bijaksana dalam menghadapi dan mengatasi kehidupan di dunia fana ini.
Beberapa unsur seperti keyakinan terhadap diri sendiri, pengalaman
beragama yang kian mempertebal iman Islam, memahami hakekat hidup serta
menghayati secara total dalam berkesenian telah diraih dan direfleksikan
pada sebagian lukisan Amang Rahman Jubair, khususnya pada karyanya yang
non-kaligrafis.
Sang pelukis itu, meninggal tanggal 15 Januari 2000. Agak
mengejutkan meski setiap orang siap melepas lelaki sepuh itu. Yang
selalu bersungguh-sungguh, dan selalu hadir menyapa berkomunikasi dengan
lelucon-leluconnya.
Yang mengejutkan ketika seniman sahabat orang banyak itu
ditinggalkan banyak orang saat menyelenggarakan "Pameran Lukisan 70
Tahun" dan diskusi buku Ambang Cakrawala: Monografi Seni Lukis Amang
Rahman. Acara di Museum Nasional Jakarta, 2001, hanya dihadiri sedikit
pengunjung. Kontras dengan pameran-pameran yang diselenggarakan ketika
ia masih hidup, acara "Mengenang Amang Rahman Jubair", yang
diselenggarakan di Balai Pemuda, Surabaya, 28 November - 3 Desember 2005
lalu juga mengalami hal yang sama.
"Mengenangkan Amang Rahman Jubair" adalah mengenang sebuah
kafe terbuka, dengan meja dan kursi di teras, yang berhubungan langsung
dengan kesibukan dan lalu lintas kota. Di mana orang-orang berkumpul dan
berbicara sambil memesan segelas kopi, sepiring bakmi atau nasi goreng,
dan dengan ditemani sebungkus rokok. Berjam-jam bicara, tak peduli
pesanan habis, dan karenanya terpaksa memesan lagi - karena obrolan tak
ada habisnya, dan keceriaan terus-terusan berhamburan.
Mungkin karena hanya warung lesehan, di mana tikar khusus
digelar di tempat yang agak jauh dari warung, tempat para pembeli datang
dan pergi. Sementara seorang Amang Rahman Jubair terus berbicara dan
terus menghamburkan cerita lucunya. Momen di mana waktu seperti berhenti
menggelar kesulitan ekonomi, problem politik, dan utamanya tantangan
kreatif penciptaan.
Tapi waktu tidak berhenti meski seperti alpa menggelar
kenyataan ketika kita bertemu dan berkumpul dengan Amang Rahman Jubair -
yang ke luar dari studio dan jadi si manusia yang melupakan tantangan
kreatif dan mungkin juga kesulitan ekonomi. Aspek ini yang terkadang
melekat dan teringat oleh siapa pun yang pernah bertemu dan berbicara
dengannya. Semesta alpa yang menyenangkan di tengah tantangan
berkesenian yang kejam - bahkan tak peduli, karena saat itu boom lukisan
dihargai mahal belum terbentuk.
Dalam esei lain ,ia melukiskan situasi simalakarma itu dengan
mengutip sebuah cerpen yang tak lagi saya ingat judulnya. Cerpen yang
menceritakan seorang pelukis yang berkonsentrasi melukis dan berhasil
membuat lukisan-lukisan fenomenal. Sehingga rumah dan studionya yang
sunyi tak diperhatikan orang jadi jujugan pelukis muda yang
berkonsultasi dan berdiskusi. Hal itu membuat si pelukis merasa
tersanjung dan sekaligus merasa terganggu karena tak lagi sempat
bersunyi dan konsentrasi melukis. Cerpen itu diakhiri dengan klimaks
yang tragik-dramatik. Si pelukis bunuh diri di depan kanvas kosong, yang
hanya berisi coretan satu kata, yang mungkin bermakna solider dan bisa
jadi soliter. Menjadi pelukis itu tidak cukup hanya kreatif melukis, dan
masyarakat mengakui kualitas dari lukisannya dengan tak perlu dibebani
tugas-tugas sosial di luar keahliannya. Atau harus melayani kehendak
masyarakat dengan tugas ini-itu di luar minat kreatifnya.
Bagi Amang Rachman Jubair berkesenian adalah masalah pilihan
dan karenanya ia berkonsentrasi kepada obsesi tematik dan masalah
estetik ekspresi simbolik lukisannya. Dan kita menemukan corak lukisan
yang khas, panorama semesta yang dibuat berlapis dan bertingkat-tingkat
sehingga suasana sunyi dan mistis jadi dominan dengan satu atau beberapa
figur ditinggalkan sendiri dalam kesepian dan siksaan rindu di tengah
keluasaan kosong, dan satu matahari atau bulan yang menjadi sumber dari
keberadan - karena segalanya jadi tampak ada karena diterangi.
Ada keterpencilan saat di cafe tersebut. Ada perasaan ngungun
karena ditinggalkan di sana - ditinggalkan di tengah segala yang tak
bermakna dan tak substansial karena semua itu hanya menggejala karena
disinari Yang Tunggal. Dan karenanya ada sikap tawakal menerima segala
yang digariskan. Ada sikap takwa dan tawadhu dari seseorang yang
percaya, mengakui, dan berserah diri dalam menjalani segalanya - dengan
usaha yang bertumpu pada mencari ridha-Nya. Pencapaian mistis yang
diungkapkan dengan tehnik yang khas.
Teknik yang matang meski tidak akademis karena dibangun dari
kemauan belajar seorang otodidak - dan kerja keras tidak kenal lelah.
Tapi hal itu jadi lumer kalau kita bertemu dengan Amang Rahman Jubair di
luar studio dan kesuntukannya sebagai pelukis yang gigih dan pantang
mundur. Yang bersiteguh mencari ciri khas sehingga lukisannya jadi ikon
lukisan Amang Rahman Jubair yang langsung merujuk ke diri seorang Amang
Rahman Jubair saja.
Di luar itu ia adalah warung lesehan, dengan segelas kopi,
sebungkus rokok, dan tertawa panjang yang membuat waktu surut dan tidak
berani menunjukkan realitas keseharian yang penuh dengan kesulitan
ekonomi, problema politik dan ter-utama tantangan kreatif penciptaan.
Tapi waktu itu tak benar-benar abai dan alpa, karena ia tetap teringat
pada kewajiban pokoknya,yaitu menghadirkan manusia dan menghilangkan
manusia dari kehadiran nyata berserentakan di dunia.
Amang Rahman Jubair pun memenuhi panggilan itu - mungkin juga
pembe-basan dari keberadaan dalam semesta keterasingan, yang ada akibat
pancaran terang dari Yang Mengadakan, dan karenanya ia akan diserap atau
terserap lagi ke dalam Yang Utama. Persis seperti puisi "Kepastian",
ditulis 1975, yang berbunyi: Dalam hidup ini, ada satu yang pasti yaitu
mati. Sebuah puisi yang menolak simbol, imaji, dan reka bunga bahasa.
Sebuah kerja kreatif yang menolak kehadiran yang semu penuh gincu dan
hiasan estetik, dan melulu menghadirkan yang substansial, yang inti.
Dan sebelum hal itu sampai, yang ada adalah kerja keras
kreatif, penuntasan kewajiban seorang suami dan ayah, serta waktu luang
untuk mentertawakan segala hal yang semu dan tidak substansial. Dan
karenanya, mengikuti simbolisasi sebuah "Sajak Ibunda" Rendra: Amang
Rahman Jubair itu warung lesehan dengan segelas kopi, sebungkus rokok,
dan obrolan intim yang penuh kegembiraan.
Kegiatan lain selain melukis adalah: Pengasuh Yayasan
Pendidikan Kesenian Surabaya (sejak tahun 1967), Mendirikan Akademi Seni
Rupa Surabaya (AKSERA), Sekretaris Dewan Kesenian Surabaya (DKS, 1971),
Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS, 1984).
Lukisan Amang Rahman Beserta Judul Dan Tahunnya
Penghianatan,1986
MataRembulan dan hari 1968
Undangan,1968
Bahtera Kehidupan,1970
Pohon Kehidupan,1970
Wajah-wajah Kehidupan,1970
Pohon Hayat,1974
Nenek,1976
Pohon Kehidupan,1979
Tujuh Bidadari,1983
Salamun Qoula Min Robbi Rokhim,1984
Ibundaku,1989
Sebelum Gerhana Bulan,1990
Semua.....Kita,1990
Yaa Rohman Yaa Rohim,1991
An-Nashr, Ayat 3,1991
Impresi Sebuah Lagu, 1992
Impresi Dua Figur 1, 1992
Kasih Sayang, 1992
Monumen Yang Sunyi , 1992
Laa Illaaha Illallah,1995
Mendekap Rembulan Berselimut Awan, 1994
Pohon Hayat,1996
Potret Diri,1996
Sebuah Doa, 1997
Renungan,1997
Terang- teranglah 1999
Puncak-puncak, 1999
Antara Kayu Tanam-
Bukit Tinggi,2000
Dzikir sambat (ya rohman ya rohim) 2000
Dan masih banyak lagi lukisan-lukisanya. Semoga beliau dan karyanya menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi kita semua....