Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Juni 2013

Takdir

 
http://lakonhidup.files.wordpress.com/2013/04/takdir-ilustrasi-rendra-purnama.jpg

















“JADI, … kamu ingin Tuhan menghidupkan kekasihmu kembali?”
“Iya!”
Aku sedang berlari dan itu hari kelima aku berlari. Dengan dada yang sesak. Kesedihan yang menikam. Juga marah semarah-marahnya kepada Tuhan!
Lalu aku sampai di hadapan laki-laki ini. Laki-laki berserban putih dan berpakaian serba putih. Dia tentu bukan Tuhan yang sedang aku cari, tetapi aku rasa dia wakil-Nya. Bukankah orang yang saleh itu dekat dengan Tuhan? Orang yang dekat dengan Tuhan tentu boleh berbicara mengatasnamakan Tuhan.
“Permintaanmu aneh! Mustahil bagi-Nya menghidupkannya kembali di dunia ini.”
“Mustahil? Adakah sesuatu yang mustahil bagi Allah?”
“Maksudku, suamimu itu mustahil hidup kembali.”
“Begitu lemahkah Allah sehingga untuk menghidupkan satu nyawa saja Dia tidak sanggup? Allah tentunya Maha Kuasa, bukan, Kek?”
“Bukan begitu masalahnya, cucuku!”
“Sudahlah, kumohon Kakek tidak menolak permintaanku. Aku hanya ingin Kakek berdoa kepada-Nya agar kekasihku itu hidup kembali. Hanya berdoa, Kek!”
“Kamu depressi, cucuku! Kamu terlalu sedih dengan musibah yang menimpamu.”
“Iya, Kakek. Aku memang depressi, aku memang sedang kurang waras! Aku mengerti, Kek. Tetapi, apakah Kakek tidak mau berdoa untukku? Andai aku selama ini dekat dengan- Nya aku bisa meminta sendiri, tidak perlu meminta bantuan Kakek.”
Kulihat orang yang kupanggil dengan sebutan kakek itu terdiam. Mungkin dia sedang mempertimbangkan permintaanku yang sepele itu.
“Tidak bisa, cucuku!”
“Tidak bisa? Mengapa tidak bisa? Bukankah Kakek selalu berdoa kepada Tuhan?”
“Tapi, aku tidak pernah berdoa kepada Allah untuk menghidupkan orang yang telah mati. Aku orang biasa, bukan nabi. Lagi pula apa perlunya aku berdoa— maaf ya, cucuku—konyol demikian!”
“Jangan salah, Kakek. Ini sangat perlu dan ini juga bukan konyol. Aku sangat mencintai lelakiku itu. Dia adalah kebahagianku, Kek. Kami baru menikah, kami baru merayakan cinta kami yang suci! Jadi, jika dia tidak bisa hidup kembali, sebaiknya aku mati saja!”
“Sabarlah, cucuku! Jangan berkata begitu….”
“Kakek, apa bedanya berdoa untuk meminta rezeki dengan berdoa untuk menghidupkan lelakiku itu?”
Kakek tersenyum, entah apa maksudnya.
“Sudahlah, cucuku! Saat ini aku tidak bisa menjelaskan kepadamu panjang lebar. Yang pokok, kamu harus sabar. Kamu harus terima kematian lelakimu itu. Sebab, semua orang akan mati. Semuanya telah ditentukan oleh Allah!”
“Begitukah? Apakah rezeki manusia belum ditentukan oleh Allah sehingga kita masih patut berdoa untuk memintanya?”
“Rezeki dan kematian manusia sudah ditentukan oleh-Nya.”
“O, jika benar demikian, tidak perlu lagi kita berdoa dan berusaha?”
“Tidak demikian. Rezeki dan kematian sudah ditentukan oleh-Nya, tetapi kita tak tahu ketentuan-Nya itu seperti apa. Karena itu, rezeki harus dikejar dan kematian harus dihindari.”
Aku mengernyitkan dahi. Ada yang kurasa masih samar. Mungkin karena jiwaku masih lelah, kejernihan pikiranku tidaklah sempurna.
“Jadi, apa perlunya kita menyakini ketentuan Tuhan atas kematian atau rezeki itu, Kakek?”
“Pertanyaan yang bagus, cucuku. Sungguh tak dapat dimungkiri bahwa soal kelahiran, soal kematian, soal rezeki, soal jodoh, dan banyak hal lainnya adalah hal-hal penting dalam hidup manusia. Sementara, manusia tidak dapat mengendalikan banyak aspek dari hal-hal itu secara mutlak. Kita berusaha terhindar dari kematian mendadak, tetapi bisa saja kecelakaan menimpa kita dan tewaslah kita seketika. Ini seperti yang dialami lelakimu.”
Aku mulai mengerti. Aku merasakan ada seberkas cahaya menyinari pikiranku.
“Cucuku, kau terlalu lelah lahir dan batin. Istirahatlah dulu. Kita teruskan diskusi ini lain waktu.”
“Baiklah, kakek, kalau begitu. Aku akan datang kembali ke tempat ini bila aku telah waras dan aku akan siapkan waktu hingga tuntas Kakek menjelaskan kepadaku.”
***
Seminggu kemudian, aku kembali ke tempat kakek berada. Syukur, tidak sulit menemukannya kembali. Kali ini dia tidak serba putih. Dia memakai kaos oblong warna hitam dan celana komprang pendekar. Bagiku tak penting benar apa yang dikenakan kakek ini sebab yang penting bagiku adalah kata-katanya!
“Cucuku, selembar daun kering yang jatuh di malam yang gelap Allah Tahu dan Allah Berkuasa atasnya. Daun itu mula-mula layu lalu kering karena sebuah proses alamiah, setelah itu ia luruh dari batang pohon dan melayang di udara, ia akan jatuh di mana itu adalah terserah angin yang menghembusnya. Tetapi, kalau Allah menghendaki, bisa saja daun itu tertahan di udara. Tetapi, jika daun itu jatuh ke tanah secara alamiah maka itu adalah kehendak Allah juga. Hanya saja, ini adalah kehendak Allah yang tidak ajaib menurut mata manusia.”
“Teruskan, Kek. Aku mulai paham.”
“Daun tidak bisa memilih tindakannya karena memang demikianlah takdir untuknya. Sementara, manusia dapat memilih tindakannya. Manusia memiliki akal dan hati. Kemampuan manusia ini adalah takdir Allah untuk manusia. Atau, dengan kata lain, kebebasan memilih itu adalah takdir Allah atas penciptaan manusia. Namanya ‘sudah takdir’ maka manusia tidak bisa mengelak dari hukum kebebasan berkehendak dalam dirinya, sekuat apa pun dia menolaknya.”
Emm… Teruskan, kakek!”
“Allah tetap memiliki kekuasaan-Nya pada perbuatan manusia yang dihasilkan dari kebebasannya untuk bertindak itu. Ketika suatu perbuatan terjadi atas keinginan manusia maka Allah berkuasa untuk ‘membiarkan’ perbuatan itu secara seharusnya. Pembiaran ini adalah kehendak-Nya juga yang berasal dari kekuasaan Mutlak-Nya. Jadi, jika sesuatu terjadi, maka itu adalah atas kehendak Allah, sama juga bila sesuatu itu tidak terjadi maka itu juga atas kehendak Allah.”
“Dalam kata lain, kekuasaan Allah itu mutlak atas segala sesuatu. Kekuasaan mutlak itu dicirikan dengan bahwa kekuasaan-Nya itu meliputi segala sesuatu tanpa kecuali, begitu ya, Kakek?”
“Benar. Kau sudah bisa menyimpulkan. Bagus-bagus. Apa ini berarti kamu sudah mulai melupakan kesedihanmu itu? Cepat sekali. Satu minggu kau sudah dapat menguasai diri.”
“Alhamdulillah, Kakek. Pertemuan dengan Kakek minggu kemarin sangat berarti bagi ketenangan jiwaku. Tetapi, Kakek, bolehkah diskusi ini kita lanjutkan? Bagaimana dengan orang yang mati membunuh dirinya? Apakah kematiannya itu telah ditentukan oleh-Nya atau karena pilihan bebasnya?”
“Begini, dalam pandangan mata manusia tentu saja orang itu berkehendak bebas sehingga bunuh diri itu terjadi karena kehendaknya. Tetapi, tentu saja bahwa hal itu sudah merupakan ‘ketentuan atau takdir- Nya’. Ketentuan itu telah ditetapkan zaman asal atau, sering disebut zaman azali. Nah, di sini otak manusia tak mampu memahami hakikat zaman azali.”
“Mengapa tak mampu, Kek?”
Ketahuilah bahwa Allah SWT itu bersifat Awal dan Akhir. Otak manusia hanya memahami bahwa yang awal pasti bukan yang akhir. Yang akhir pasti bukan yang awal. Bagaimana sesuatu yang awal itu menjadi yang akhir atau sebaliknya? Sampai kapan pun akal manusia tak dapat memahaminya. Otak manusia berjalan pada ruang logis dan kronologis.”
“Ini menarik, Kek.”
“Contoh lain, Allah itu Dhohir (tampak) dan Bathin (tak tampak). Dua hal yang bertentangan dalam satu hakikat tentu saja tidak masuk akal atau mustahil menurut akal. Tetapi, Allah yang Mahatinggi mutlak memiliki sifat atau kualitas demikian. Jadi, tidak bisa dipahami hakikat keilahian Allah jika yang kita gunakan adalah akal kita an sich. Otak kita tidak dalam kapasitas untuk itu. Dalam sebuah sabdanya, Nabi Muhammad melarang kita berpikir tentang Zat Allah, dia menganjurkan kita untuk berpikir tentang ciptaan-ciptaan-Nya saja.”
“O begitu ya, Kek. Kalau begitu, Nabi kita itu sangat bijak ya, Kakek. Dia tahu bahwa sebagian manusia akan mengarahkan pikirannya ke sana sehingga dia perlu memberi warning.”
Nah, aku jadi ingat, bijaksana! Al-Hakim! Allah SWT Mahabijaksana. Tadi aku jelaskan bagaimana Allah itu berkuasa mutlak. Tetapi, ingatlah bahwa Allah SWT juga Mahabijaksana atau al-Hakim. Sehingga kehendak-Nya atau kekuasaan-Nya yang mutlak itu sejalan dengan hikmah kebijaksanaan-Nya. Hikmah kebijaksanaan-Nya itu yang pertama merupakan hukum keadilan (sebab-akibat). ”
“Kakek, berhentilah dulu. Jangan panjang-panjang. Aku perlu mencernanya pelan-pelan.”
Dia menghentikan kata-katanya, memberiku kesempatan untuk bernapas sejenak tanpa beban berpikir.
“Cukup? Aku lanjutkan. Dari pengertian ini, maka perbuatan atau kehendak bebas manusia dijamin oleh Allah SWT. Aku ingin menyatakan di sini bahwa Allah SWT hanya sesekali ikut campur sehingga tidak mengikuti hukum sebab-akibat ini—setidaknya menurut pengamatan manusia. Contohnya, ketika Dia membuat api menjadi dingin bagi Nabi Ibrahim. Laut yang tenang tiba-tiba terbelah memberi jalan untuk Musa dan pengikutnya.”
“Kalau begitu kita cukup mengandalkan kemampuan diri sendiri dan apa yang telah diberikan Allah dalam alam raya ini. Kita tidak perlu memohon bantuan dan pertolongan-Nya sebab segala sesuatu umumnya hanya bertumpu pada hukum keadilan Allah alias hukum sebab-akibat?”
“Ya dan tidak!”
“Ya dan tidak? Jangan Kakek membuatku bingung.”
“Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula yakin akan adanya bantuan dan campur tangan Allah, bolehlah dia menganggap sepi Allah. Bolehlah dia bertindak hanya dengan percaya kepada kemampuannya, percaya pada hukum sebab-akibat saja. Tetapi manusia yang beriman tidak boleh demikian. Dia, sebaliknya, diperintahkan untuk berdoa, diperintahkan untuk percaya pada bantuan Allah, diperintahkan untuk yakin adanya campur tangan Allah dalam kehidupannya.”
“Bagaimana cara Dia membantu urusan kita, Kek?”
“Dia Mahacanggih sehingga Dia bisa bantu kita dengan berbagai cara yang kita sendiri mungkin tidak menyadarinya. Dan, salah satunya ialah melalui hati. Allah senantiasa berkuasa atas hati kita.”
“Maksud Kakek, Allah membisiki hati manusia atau ada makhluk lain yang ditugaskan, malaikat, misalnya?”
“Benar kamu.”
***
“Kakek, sekarang ini sudah jam satu siang. Aku belum makan sejak pagi. Seandainya sekarang ini aku berdoa kepada Allah agar Dia mendatangkan dua piring nasi gudek— yang sepiring untuk aku dan yang sepiring lagi untuk Kakek—apakah, satu, Dia akan memenuhi permintaanku itu dan dua, apakah aku patut berbuat demikian?”
“Dia pasti insya Allah tidak akan mendatangkan dua piring nasi gudek itu.”
“Mengapa begitu, Kek?”
“Allah bertindak dengan kebijaksanaan. Bukan dengan kesembronoan. Ini adalah kepastian.”
“Oke! Ini berarti aku tidak patut melakukan doa yang semacam itu ya, Kek. Tetapi, seandainya aku benar-benar haus akan bukti yang bisa membuat hatiku mantap terhadap perkara bantuan Allah ini, bolehkah aku berdoa yang semacam itu?”
“Boleh saja. Tetapi, Allah-lah yang mempertimbangkan kepatutanmu untuk mendapatkan keajaiban itu. Dan, yang penting bahwa kamu juga siap menerima risikonya.”
“Risiko, apa maksudnya, Kakek?”
“Bagaimana seandainya Allah SWT tidak kunjung menunjukkan keajaiban yang kamu minta itu, apakah kamu sanggup menderita batin sebab menunggu-nunggu dan menduga-duga?”
“O… gitu ya, Kek?”
“Dan, bila akhirnya Dia tidak berkenan, apakah kamu mau menjadi orang kafir? Siapkah kamu menjadi orang kafir?”
“He..he…he… kok jadinya bisa begitu!”
“Orang-orang dahulu di zaman Nabi meminta keajaiban. Bahkan, ketika keajaiban itu benar-benar ditunjukkan, orang-orang tersebut tetap dalam kekafiran.”
“Bagaimana dengan orang-orang sesudah nabi, aku dengar mereka juga mengalami keajaiban-keajaiban. Benarkah ini, Kakek?”
“Benar sekali. Mereka adalah para waliyullah. Mereka adalah orang-orang yang berada di garis depan dalam bertaat kepada Allah. Mereka tidak meminta keajaiban seperti kamu—maksudku, seperti yang kamu rencanakan dan omongkan tadi. Mereka mendapatkan keajaiban adalah tanpa mereka minta.”
Wah, hebat sekali mereka. Aku ingin menjadi waliyullah seperti mereka. Kenalkan aku kepada mereka, Kek?”
“Tetapi, apa kamu yakin bahwa kamu bisa menjadi waliyullah?”
“Bukankah kita bebas untuk menjadi apa, sesuai dengan keinginan kita? Dan, bahwa Allah yang Mahabijaksana menjamin kebebasan kita itu. Sehingga, jika aku sungguh-sungguh menempuh jalan ini maka Dia pasti akan menolongku dan membantuku. Begitu kan, Kek? Kakek ini pasti menguji aku, iya kan?”
“Kamu lulus, cucuku!”
Aku merasa senang mendengar predikat “lulus” itu. Kini hatiku serasa seluas samudera. Tidak ada lagi dalam hatiku kesedihan sebab lelakiku yang telah tiada. Aku rasa yang terpenting buatku sekarang adalah mejalani hidup ini penuh optimisme sebab kini aku tahu secara pasti bagaimana menempatkan kebebasanku berbuat dalam kerangka ikhtiar dan bagaimana aku sangat yakin bahwa Allah akan mengulurkan tangan-Nya untukku.
“Kamu melamun, cucuku?”
“Oh ya…!” (*)


(Cerpen,As Sidqon).Subah, 22 Januari 2013
Penulis lahir di Batang, 6 Januari 1970. Saat ini tinggal di Kompleks Ponpes Subhanah, Subah, Batang, Jawa Tengah.
Selengkapnya →

Huruf Terakhirku


Huruf Terakhir ilustrasi Budiono
  NAMAKU Lili, ujarmu di perkenalan kalian dua tahun yang lalu, perkenalan yang akhirnya mengantarkan kalian ke pelaminan, pernikahan yang melempar kalian ke kesemuan yang lucu, kenyataan yang menyeret kalian ke dalam lakon berdarah siang itu!
***
SEJAK dipromosikan menjadi sekretaris direktur, sebagian besar waktumu kauhabiskan untuk urusan pekerjaan. Kau tak pernah tahu, sedari kauputar kunci Avanza lalu meluncur ke kantor di utara kota, Illy selalu berhasil membawamu kembali. Dari pagi hingga malam meninggi, kalian membincangkan banyak hal. Dari pekerjaan, kesetaraan gender, kurs rupiah yang makin anjlok, anggota-anggota DPR yang beradu mulut dan saling tonjok, isu naiknya harga BBM, hingga perkara asmara.
Untuk yang terakhir, kalian tidak hanya terlibat dalam perbincangan yang hangat, tapi juga kerap bercumbu bagai tak menenggang keberadaan tetangga. Kadang Illy tertawa keras-keras, kadang memekik penuh gairah, dan tak jarang melenguh seolah tengah menuntaskan pertarungan-ranjang. Kalian selalu melakukannya sepanjang hari. Bila kau pulang cepat, di waktu yang sama, kauburu-buru menyelinap keluar dari pintu belakang.
Illy juga selalu pandai berakting seolah sepanjang hari sibuk menulis artikel budaya untuk koran lokal, beberapa puisi picisan untuk majalah remaja, menghitung untung-rugi beberapa usaha alternatif yang hingga kini belum direalisasikan, atau membereskan pekerjaan rumah sebagaimana dilakukan oleh para ibu rumahtangga—atau bahkan para pembantu rumahtangga. (Bukan, bukan kau yang meminta Illy melakukannya. Dia sendirilah yang mengajukan diri seolah menenggang kesibukan yang membelitmu, seolah tahu diri dengan status penganggurannya). Selayang pandang, Illy memang tampil sebagai suami yang sayang istri. Ya, walau menjadi penopang keuangan keluarga, kau tak pernah berpikir untuk membabukan suami.
Kau hanya sering heran, mengapa Illy selalu lupa merapikan seprei ranjang atau sofa panjang ruang tengah. Kau selalu mendapati dua perabotan itu dalam keadaan kusut atau berantakan. Kau tak pernah menaruh curiga kepadanya. Kau seolah lupa, sepengangguran apa pun, Illy adalah seorang sarjana, Illy adalah laki-laki normal yang haus kehangatan, Illy bukanlah seorang dungu yang setia-buta menantikan kaupulang larut malam dalam keadaan lelah yang sangat (dan Illy menyiapkan air hangat yang akan membilas lelahmu agar kau dapat menyongsong malam dengan mimpi yang menerbangkan kepenatan). Lagipula takkah kau merindukan kehadiran seorang anak, Lili?
Ah, yang terang, kau tak pernah tahu, Illy hanya memandangimu yang pulas di sampingnya (Oh Lili, takkah kau iba kepadanya?); kau tak pernah sadar bahwa kau tak pernah punya waktu untuk bertarung dengannya di dalam kelambu brokat tembus pandang; kau juga tak pernah tahu, akhirnya Illy melampiaskan gairah kepada kesepiannya, kepada yang tiba-tiba meluangkan waktu untuk mendengar curhatnya, kepada yang tiba-tiba mendengarkan setiap keluh-kesahnya, kepada yang selalu memberi pertimbangan perihal usaha yang akan ia buka, kepada yang selalu memberi kenikmatan tak tertanggungkan tanpa harus berlaku sepertimu dulu: menerapkan kamasutra yang aneh-aneh lalu menganggurkannya sekian lama hingga saat ini!
Kau sangat kejam, Lili!
***
PAGI itu, kau tergesa-gesa mengunyah nasi goreng masakan Illy ketika ponselmu berdering nyaring. Direktur memintamu ke kantor lebih awal. Ada rapat mendadak dengan klien di perusahaan. Tanpa banyak ba-bi-bu, kau-oke-kan saja. Kautinggalkan sarapan yang baru kaulahap dua sendok. Terburu-buru kauambil segelas sirup-sunkis dan meminumnya seperempat isi. Setengah berteriak kaupamit. Kaututup pintu serampangan. Menuju Avanza yang baru selesai dicuci Illy pagi tadi. Tak sampai dua menit, mobil metalik itu sudah membawamu menyusur jalanan yang bingar oleh perang klakson.
Di kantor, kau akan mendampingi laki-laki flamboyan yang kaupanggil “Pak Direktur” untuk mengikuti rapat yang akan dimulai satu jam lagi. Kau tahu kalau laki-laki itu sudah lama menaruh hati kepadamu. Namun kau mengabaikannya saja. Tentu saja kau tidak menunjukkanya. Kau masih cukup cerdas memilih; kapan melengkungkan senyum, kapan mengejek ketakberdayaan pimpinan. Kau selalu pandai berkilah bila rekan-rekan kantor (khususnya yang wanita) kerap mengolok-olokmu. Kepada mereka kaunyatakan bahwa kau memang tak membantah perihal Pak Direktur yang sangat perhatian, namun kau menolak dikatakan mendapatkannya dalam porsi lebih, apalagi dengan cara yang tak semestinya.
Pak Direktur hanya ingin menunjukkan bahwa karyawan yang baik akan mendapat tempat yang lebih layak, ujarmu sok bijak.
Kau terenyak mendapati berkas-berkas di dalam mapmu. Ada yang kurang. Kaulirik arloji mungil yang melilit pergelangan tangan kirimu. Tiga puluh menit lagi rapat akan dimulai. Kauminta izin keluar sebentar. Pak Direktur menunjukkan air muka keberatan. Namun senyum manis yang kausunggingkan, seolah-olah meyakinkan pimpinan perusahaan itu bahwa kau akan kembali sebelum rapat dibuka. Ya, tentu saja tak kaukatakan bahwa kaupulang mengambil beberapa nota kesepakatan yang akan ditandatangani klien perusahaan di akhir rapat.
Kaunyalakan mobil. Kautarik napas agak panjang sebelum menginjak pedal gas. Kau akan mengemudi dalam kecepatan tinggi. Mobil melaju. Cepat. Kaupasang konsentrasi tinggi. Mobilmu meliuk dengan mulus di beberapa simpang dan jalan yang tak rata. Baru kali ini kaudapati bukti bahwa keadaan genting dapat melecutkan keberanian hingga beberapa kali lipat.
Kaubunyikan klakson beberapa kali namun Illy tak kunjung membukakan pagar. Kau pun kesal. Kauturun dari mobil. Kau menggeret pagar dengan muka kusut. Kauparkir mobil sekenanya di halaman (sebenarnya bisa saja kau memarkirkan mobil di depan pagar tapi kaukhawatir ada mobil lain yang akan melintas di jalan kompleks yang sempit itu). Kau menarik gerendel pintu depan dengan gerakan malas. Kaubanting pintu. Kaugegas ke ruang kerja. Kau membuka lemari yang biasa kaugunakan untuk menyimpan berkas-berkas kantor. Sembari memeriksa berkas-berkas yang belum juga ditemukan, kau memanggil-manggil suamimu. Tentu saja kau bukan hendak meminta bantuannya untuk mencarikan beberapa map penting karena ia memang tak tahu apa-apa tentang pekerjaanmu. Kau hanya ingin memastikan bahwa suamimu ada di rumah. Kau hanya ingin tahu mengapa ia tidak mengunci sekaligus membukakan pagar dan pintu untukmu… mengapa ia mengabaikanmu!
Praaanggggg!!
Kau menoleh. Vas bunga kristal yang dihadiahkan Pak Direktur di hari ulangtahunmu beberapa bulan yang lalu, tersenggol siku tanganmu. Pecah. Beling-beling berserakan di lantai. Kau makin kesal. Mulutmu mulai merunyam. Beberapa kali kaupanggil suamimu dengan berteriak. Tak juga ada tanggapan. Ponselmu berdering. Nama Pak Direktur mengedap-kedipkan layarnya. Irama degup jantungmu mulai timpang. Butir-butir keringat berebutan menerobos pori-pori kulitmu. Kau menarik napas panjang sebelum memutuskan menjawab panggilan.
Klek!
Perasaan lega dan khawatir bertabrakan dalam dadamu ketika mendapati panggilan terputus sebelum sempat kaujawab. Kaugegas menekuri lemari berkasmu. Ups! Matamu berbinar cerlang. Kau akhirnya menemukan apa yang kaucari. Kau melirik arloji di tangan. O, rapat pasti baru saja dimulai, gumammu. Kau tahu, Pak Direktur pasti marah. Tapi memilih mendampinginya tanpa berkas yang harus ditandatangani, tentu dapat membuatmu terdepak dari posisi nyaman.
Baru saja hendak menuju pintu, kau mendengar suara dari arah kamarmu. O, suara itu memang berasal dari sana. Dan suara itu. O, benarkah suara itu benar-benar dari kamar? Itu suara suamiku, batinmu bergetar. Suara itu, suara itu, desahan itu, desahan yang menggambarkan kenikmatan yang tengah didaki.
Benarkah desahan itu memanggil-manggil namaku, batinmu menggigil.
Bahumu turun-naik. Perasaanmu benar-benar tak tentu. O, tidakkah kausadar, sudah lama nian kau tidak membuat suamimu mengeluarkan suara-suara yang meremangkan gairah? Dan kini…. O kini, kepalamu bergasing demi menerka siapa yang telah membuat suamimu sebergelora saat ini!
Kau bersijingkat mendekati pintu kamar. Pelan-pelan kaubuka pintunya yang tidak terkunci. Kau mengintip. Awalnya kausipitkan sebelah mata sebelum akhirnya tanpa kendali kaubelalakkan kedua indera penglihatanmu itu. Kau berteriak sembari berlari menuju suamimu yang bergeliat di atas seprei ranjang yang kusut.
Paaakkkk!
Sebelah tanganmu terasa berdenyar sehabis menampar sebelah pipi laki-laki yang sedari tadi sibuk memegangi kelaminnya sendiri!
Illy pun terkesiap tak alang kepalang. Refleks ia bangun, mengeret tubuhnya ke pojok ranjang, lalu meraih selimut untuk menutupi kemaluannya. Ia benar-benar malu dengan apa yang baru saja terjadi. Kau pun memandanginya dengan tatapan iba. Sekujur tubuh suamimu simbah oleh keringat.
Tampaknya kau benar-benar merinduiku, Sayang… ujarmu seperti bergumam. Suaramu seperti merasa sangat berdosa.
Illy masih menggigil. Ia seperti remaja yang habis digagahi tiga orang sekaligus. Tatapannya kosong. Ia terus memanggil-manggil namamu. Kau tak kuasa meneteskan airmata. Kau seolah baru sadar telah mengabaikan suamimu lebih dari setahun belakangan.
Kaulepaskan stiletto-mu. Kaunaik ke atas ranjang. Kaupeluk suamimu seolah menenangkan seorang anak kecil yang habis dihajar ayah tiri. Kaurapat-rapatkan dadamu ke wajahnya dan ia terus saja memanggil-manggil namamu.
Aku di sini, Sayang, ujarmu lagi dengan nada menenangkan seraya melepaskan syal yang melilit lehermu. Aku juga sangat merinduimu, lanjutmu dengan wajah penuh rona. Kini, kaulepaskan semua yang menutupi tubuhmu. Kaupikir, bercinta dengan suamimu siang itu adalah salah satu cara untuk mengakui kealpaanmu selama ini. Kau seperti mendadak tak peduli pada rapat di kantor yang akan segera berakhir. Kau tak tahu kalau suamimu benar-benar bingung apa yang tengah dihadapi. Sungguh, ia ingin melanjutkan percintaan denganmu, perempuan yang menggiring jemarinya mencumbui selangkangan sendiri….
Gubrraaakkk!!
Tendangan kaki kanan Illy membuatmu terjerengkang dari atas ranjang. Tubuhmu berguling-guling di lantai. Kaurasakan banyak kunang-kunang mengitari kepala. Pelipismu meneteskan cairan marun kental. Samar-samar kaulihat Illy meraih tembikar seukuran tubuh bayi dan… o o o, ia mengarahkannya ke arahmu, ke kepalamu!
Kau tak sempat berteriak, seolah membiarkan deringan ponsel dalam tas kerjamu (nama Pak Direktur mengedap-kedipkan layarnya) membisingkan siang itu, seolah membiarkan kematian datang bersama ketaktahuan yang mengenaskan:
Yang Illy inginkan bukan Lili, tapi Lily! (*)
Tabarenah, April-Juni 2012
Benny Arnas, lahir dan tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Buku cerita pendeknya adalah Bulan Celurit Api (2010) dan Jatuh dari Cinta (2011). Bersama sang istri, mengelola BENNY INSTITTUTE
Selengkapnya →