Tampilkan postingan dengan label puisi dan syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi dan syair. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 Juni 2013

Puisi kasih " Jalaluddin Rumi "


1

Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah.

2

Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu. Dan “ Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari seniku.

3

Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung laksana sinar matahari yang menerangi bumi. Namun, kasih-Nya tidaklah berasal dari berbagai bentuk yang ada di bumi. Kasih-Nya melampaui setiap bentuk yang ada di bumi, sebab bumi ini dan segala isinya tercipta sebagai perwujudan dari kasih-Nya.

4

Jika kau ingin melihat wajah-Nya, maka tengoklah pada wajah sahabatmu tercinta.

5

Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri.

6

Demi Allah, ketika kau melihat Jatidirimu sebagai Yang Maha Indah, maka kau pun akan menyembah dirimu sendiri.

7

Di mana saja kau berada, apa pun keadaanmu, cobalah selalu menjadi seorang pecinta yang senantiasa dimabuk oleh kasih-Nya. Sekali kau dikuasai oleh kasih-Nya, maka kau akan hidup menjadi seorang pecinta yang hidup bagaikan dalam pusara. Dan kau akan tetap hidup hingga hari kebangkitan itu tiba, lantas kau pun akan dibawa ke dalam surga dan hidup kekal selamanya. Namun, jika kau belum menjadi seorang pecinta, maka pada hari pembalasan seluruh pahalamu tidak akan dihitung.

8

Pada Hari Kebangkitan, orang-orang akan berjalan sempoyongan. Di depan-Mu, mereka akan menggigil dengan wajah pucat karena ketakutan. Maka, aku akan memeluk kasih-Mu dan berkata kepada mereka: “Mintalah apa pun; mintalah atas namaku.”

9

Ketika aku mati sebagai manusia, maka para malaikat akan datang dan mengajakku terbang ke langit tertinggi. Dan ketika aku mati sebagai malaikat, maka siapa yang akan mendatangiku? Kau tak akan pernah dapat membayangkannya!

10

Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan. Namun, janganlah tergesa melarikan diri dari kenyataan pahit ini dengan pergi berdoa atau membaca kitab suci. Lepaskan semua tindakan mekanis yang berasal ketaksadaran diri. Biarkan keindahan Sang Kekasih menjelma dalam setiap tindakan kita. Ada beratus jalan untuk berlutut dan bersujud kepada-Nya.

11

Diamlah! Cinta adalah sebutir permata yang tak bisa kaulemparkan sembarangan seperti sebutir batu.

12

“Mintalah sesuatu kepada-Ku,” begitu Kau berkata suatu ketika. Aku tertawa dan berkata: “Aku telah cukup bersama-Mu. Tanpa kehadiran-Mu, seluruh dunia ini hanyalah sebatang kayu yang mengapung dan terombang-ambing di samudera-Mu.”

13

Yakinlah, di Jalan-Cinta itu: Tuhan akan selalu bersama-Mu.

14

Tak ada pilihan lain bagi jiwa, selain untuk mengasihi. Namun, pertama kali jiwa harus merangkak dan merayap di antara kaki para pecinta. Hanya para pecinta yang dapat lepas dari perangkap dunia dan akhirat. Hanya hati yang dipenuhi dengan cinta yang dapat menjangkau langit tertinggi. Bunga mawar kemuliaan hanya dapat bersemi di dalam hati para pecinta.

15

Segalanya yang kau lihat mempunyai akarnya di dalam dunia yang tak terlihat. Bentuk akan berubah, namun intisarinya tetaplah sama.

16

Ketika sedih, aku bersinar bagaikan bintang pagi. Ketika patah hati, hakekatku justru tersingkap sendiri. Ketika aku diam dan tenang seperti bumi, tangisku bagaikan guntur yang menggigilkan surga di langit tertinggi.

17

Hati manusia selalu terbuka dan dapat menerima segalanya: semua yang baik dan buruk menjadi bagian dari Sufi.

18

Aku kehilangan duniaku, ketenaranku, dan pikiranku. Ketika matahari terbit, maka semua bayang-bayang lenyap. Aku berlari mendahului bayang-bayang tubuhku yang lenyap saat aku berlari. Namun, cahaya matahari itu berlari mendahuluiku dan memburuku, hingga aku pun terjatuh dan bersujud pasrah ditelan samudera kilau-Nya yang mempesona.

19

Aku ingin melihat wajah-Mu pada sebatang pohon, pada matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna.

20

Karena Cinta segalanya menjadi ada. Dan hanya karena Cinta pula, maka ketiadaan nampak sebagai keberadaan.

21

Badan ini hanyalah suatu cermin surga. Energinya membuat para malaikat cemburu. Kemurniannya membuat malaikat Seraphim terkejut. Dan Iblis yang berdiam di urat-urat syarafmu pun menggigil takut.

22

Kau lebih mahal dibanding surga dan bumi. Apa yang bisa kukatakan lagi? Kau tak mengetahui bahwa selama ini segala yang berharga telah menjadi milikmu. Janganlah menjual dirimu dengan harga murah, sesungguhnya dirimu sangatlah mahal di mata Tuhan.

23

Cintaku pada-Nya adalah hakikat jiwaku. Hidupku adalah gelora yang selalu merindukan-Nya. Aku hidup seperti seorang gipsi pengembara, aku tak pernah menetap di tempat yang sama, namun setiap malam aku selalu bernyanyi dan menari ditemani bintang-bintang di bawah langit yang sama.

24

Kematianku adalah perkawinanku dengan keabadian.

25

Meski aku terbakar habis, namun aku tetap tertawa, karena abuku masih tetap hidup! Aku telah mati ribuan kali: namun abuku selalu menari dan lahir kembali dengan ribuan wajah baru.

26

Di gurun pasir tanpa batas, aku kehilangan jiwaku, dan menemukan bunga mawar ini.

27

Aku telah melihat wajah mulia Sang Raja. Dia adalah mata dan matahari surga. Dia adalah teman seperjalanan dan penyembuh semua mahluk. Dia adalah jiwa dan alam semesta yang melahirkan jiwa-jiwa. Dia menganugerahkan kebijaksanaan pada kebijaksanaan, kemurnian pada kemurnian. Dia adalah tikar sembahyang bagi jiwa orang-orang suci. Setiap atom di tubuhku berlompatan sambil menangis dan berkata: “Terpujilah Tuhan.”

28

Apapun juga yang mereka katakan atau pikirkan, aku tetap ada di dalam Kau, karena aku adalah Kau. Tak seorang pun dapat memahami hal ini, sampai ia mampu melampaui pikirannya.

29

Jika kau dapat bertemu dengan Jatidirimu meski hanya sekali, maka rahasia dari segala rahasia akan terbuka bagimu. Wajah dari Yang Maha Tersembunyi, yang ada di luar alam semesta ini, akan nampak pada cermin persepsimu.

30

Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar. Namun, janganlah kau berputus asa, karena mereka semua datang dari sumber yang sama, dari Keabadian. Masukilah Keabadian itu, maka kau akan melihat segala sesuatu tumbuh dan berkembang, memberi hidup baru dan kegembiraan baru bagimu.

31

Ayat-ayat Tuhan itu tersimpan di hati langit yang paling rahasia. Suatu hari, seperti hujan, ayat-ayat Tuhan itu akan jatuh dan menyebar, sehingga misteri Keilahian akan tumbuh menghijau di seluruh dunia.

32

Jika kau berputar mengelilingi matahari, maka kau pun akan menjadi matahari. Jika kau berputar mengelilingi seorang Guru, maka kau pun akan bersatu dengan-Nya. Kau akan menjadi sebutir permata, jika kau menari mengelilingi-Ku. Dan kau akan berkelip seperti emas, jika kau menari mengelilingi-Nya.

33

Kau hanya memerlukan aroma anggur, karena makrifat akan menyala dengan sendirinya dari kesunyian hatimu setelah mencium aroma anggur itu, seperti juga nyala api akan tersilap dan berkobar dari aroma anggur! Bayangkan jika kau adalah anggur itu sendiri.

34

Sufi adalah seorang lelaki atau seorang perempuan yang telah patah hati terhadap dunia.

35

Kekasih, beri aku kesempatan untuk selalu mengetahui bagaimana cara menyambut-Mu, dan sulutkanlah obor di tangan-Mu agar membakar habis rumah ke-ego-an di dalam diriku.

36

Sembunyikan rahasia-Ku di dalam harta karun jiwamu. Sembunyikan perasaan ekstase itu di dalam dirimu. Jika kau menemukan Aku, maka sembunyikan Aku di dalam hatimu. Sadarilah kemabukan ini sebagai Kebenaran Mutlak!

37

Ingatlah bahwa Nabi Muhammad pernah berkata: “Satu penglihatan tentang-Nya adalah suatu berkah yang tak terhingga.” Setiap daun dari suatu pohon membawa suatu firman dari dunia yang tak terlihat. Lihatlah, tiap-tiap daun yang jatuh ke tanah sebagai suatu berkah dari-Nya. Segala sesuatu di alam ini senantiasa menari dalam harmoni, bernyanyi tanpa lidah, dan mendengar tanpa telinga, ya, semua itu adalah berkah yang tak terhingga dari-Nya.

38

Isi aku dengan anggur dari sunyi-Mu, biarkan anggur itu merendam pori-poriku, hingga Keindahan dari Yang Maha Agung akan terungkap bagiku. Inilah arti berkah bagiku!

39

Jika kau mendefinisikan dan membatasi “Aku” dengan berbagai konsepmu, maka kau akan kelaparan dengan dirimu sendiri. Lalu “Aku” pun akan jatuh ke dalam suatu kotak yang terbuat dari kata-kata, dan kotak itu adalah peti mayatmu sendiri.

40

Aku tidak tahu siapa sebenarnya “Aku”. Tetapi, ketika aku berjalan ke dalam diriku sendiri, maka aku pun terkejut: ternyata “Aku” adalah suara milik-Mu, gema yang terpantul dari “Dinding-Keilahian”.

41

Jatidiri kita adalah Cahaya. Cinta-Ilahi adalah Matahari-Keagungan. Sinar-Nya adalah firman. Dan mahluk adalah bayang-bayang-Nya.

42

Perkecillah dirimu, maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia. Tiadakan dirimu, maka Jatidirimu akan terungkap tanpa kata-kata.

43

Ketika kami mati, jangan cari pusara kami di bumi. Tetapi, temukan di dalam hati para pecinta.

44

Ketika pikiran dilampaui, maka keindahan cinta pun datang menghampiri, berjalan dengan anggun, serta membawa secangkir anggur di tangannya. Ketika cinta dilampaui, maka Yang Maha Esa pun datang menghampiri – Ia adalah Zat yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata dan hanya bisa disebut sebagai “Itu”.

45

Setiap orang yang tinggal jauh dari sumber-Nya, dari Jatidirinya, maka ia akan selalu rindu untuk kembali ke masa ketika ia masih dipersatukan dengan-Nya.

46

Surga dibuat dari asap hati yang terbakar habis. Dan orang yang diberkahi oleh Tuhan adalah orang yang hatinya telah terbakar habis.

47

Awan-awan berada dalam keheningan meski penuh dengan berjuta kilat. Cinta akan memberi kelahiran baru bagi para filsuf berkepala batu. Jiwaku adalah ombak di dalam samudera kemuliaan-Mu. Dan di dalam keheningan: alam semesta beserta segala isinya tenggelam di dasar samudera kemuliaan-Mu.

48

Manusia ibarat suatu pesanggrahan. Setiap pagi selalu saja ada tamu baru yang datang: kegembiraan, kesedihan, ataupun keburukan; lalu kesadaran sesaat datang sebagai suatu pengunjung yang tak diduga. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua hanya membawa dukacita. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua dengan kasar menyapu dan mengosongkan isi rumahmu. Perlakukan setiap tamu dengan hormat, sebab mereka semua mungkin adalah para utusan Tuhan yang akan mengisi rumahmu dengan beberapa kesenangan baru. Jika kau bertemu dengan pikiran yang gelap, atau kedengkian, atau beberapa prasangka yang memalukan, maka tertawalah bersama mereka dan undanglah mereka masuk ke dalam rumahmu. Berterimakasihlah untuk setiap tamu yang datang ke rumahmu, sebab mereka telah dikirim oleh-Nya sebagai pemandumu.

49

Saat kau datang ke dunia ini, suatu tangga telah ditempatkan di depanmu, dan tangga itu akan mengantarmu kepada-Nya. Dari bumi ini, kau pun naik menjadi tumbuhan. Dari tumbuhan kau pun naik menjadi hewan. Setelah itu kau pun naik menjadi manusia – mahluk yang mewarisi pengetahuan melalui akal dan iman. Lihatlah, tubuhmu merupakan turunan dari debu, tetapi bagaimana bisa tubuhmu menjadi begitu sempurna? Lalu, mengapa kau takut dengan kematian? Ketika kau berhasil melampaui bentuk manusia ini, maka tak diragukan lagi kau akan menjadi malaikat dan membumbung melampaui lapisan-lapisan langit tertinggi. Tetapi, janganlah berhenti di sana, bahkan badan surgawimu itu akan tetap tumbuh menjadi tua, lampaui lagi surga itu dan melompatlah ke dalam “Samudera Kesadaran Yang Maha Luas”. Biarkan dirimu – yang bagaikan setetes air itu – menjelma menjadi seratus samudera. Tetapi, jangan berpikir bahwa hanya setetes air itulah yang telah menjelma menjadi samudera, sebab samudera juga telah menjelma menjadi setetes air.

50

Sssttt! Diamlah! Dengarkan suara dalam dirimu. Ingatlah firman pertama-Nya: “Kita melampaui setiap kata.”





Biodata Singkat Jalaluddin Rumi



Rumi – nama lengkapnya, Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al-Khattabi al-Bakhri – lahir di Balkh (Afghanistan sekarang) pada tanggal 30 September 1207. Para Orientalis di Barat mengakui Rumi sebagai penyair yang terbesar dari semua penyair mistik yang pernah ada dalam peradaban Islam. Dan para sufi di Timur Tengah mengakui bahwa karya-karyanya dianggap sebagai Al-Qur’an kedua karena kedalaman maknanya. Jalaluddin Rumi adalah pendiri “Tarekat Mevlevi” di Turki. Sebelum Perang Dunia II, pengikut Tarekat Mevlevi berjumlah 100.000 yang tersebar di seluruh Balkan, Afrika, dan Asia. Tidak ada penyair di dalam sejarah – tidak juga Shakespeare Atau Dante – yang secara nyata mempunyai dampak pada peradaban seperti yang dilakukan oleh Rumi. Dan tak ada puisi yang mampu membangkitkan ekstase mistik dan kebahagiaan kepada pembacanya seperti puisi-puisi yang ditulis oleh Rumi.



Rumi adalah satu pribadi di antara sedikit pribadi di bumi yang memiliki kesadaran universal – selain Ramakrishna, Aurobindo, dan Kabir – yang dihasilkan oleh agama, dan telah mewarnai kehidupan serta peradaban manusia dengan kemuliaan cinta. Maka, pada saat ini, ketika kita membutuhkan suatu inspirasi untuk mencintai dunia yang tengah terancam kehancuran, ketika kita sudah melupakan identitas Keilahian, kebahagiaan, serta tanggung jawab kemanusiaan kita, Rumi hadir sebagai seorang pemandu dan seorang saksi atas kemuliaan Tuhan serta keagungan jiwa manusia. Rumi hadir membawa esensi agama yaitu cinta yang universal. Bagi Rumi, cinta melebihi semua dogma agama, cinta hadir untuk memeluk keseluruhan ciptaan, cinta adalah hakekat agama yang mempersatukan seluruh umat manusia dalam cahaya Keilahian.
Selengkapnya →
Minggu, 16 Juni 2013

Jika Memang Takdirku

Kutitipkan catatan luka pada sang malam
Ketika bulan hanya separuh terlihat
Dibatas kepenatan kembara menyusuri kebekuan
Mengulas ketiadaberdayaan rasa menyulam tawa
Lukisan biru yg mesti terpagut disela gigil perihku
Bahkan sang waktupun mulai beranjak pergi
Bersembunyi dalam wajah keriputnya sang buana
Hanya melambaikan sedepa lengannya pada kaki kaki langit yg tegas
Tinggalkan sosok diri yg terpaku bisu, ditelan hampa
Dan aku kian terpuruk dalam kelam nya sang kegelapan
Kutitipkan catatan luka pada sang malam
Ketika bulan hanya separuh terlihat
Dibatas kepenatan kembara menyusuri kebekuan
Mengulas ketiadaberdayaan rasa menyulam tawa
Lukisan biru yg mesti terpagut disela gigil perihku
Bahkan sang waktupun mulai beranjak pergi
Bersembunyi dalam wajah keriputnya sang buana
Hanya melambaikan sedepa lengannya pada kaki kaki langit yg tegas
Tinggalkan sosok diri yg terpaku bisu, ditelan hampa
Dan aku kian terpuruk dalam kelam nya sang kegelapan
Pada pekat yg hitam
Pada legam yg menawan
Pada kelam yg gemulai
Bahkan pada hampa yg lembut
Jiwa larut dalam kepasrahan diri
Hati tiada berbantah pada kebenaran nan hakiki
Melangkah diatas jalanan yg telah tersurat, jika ini memang takdir ku ?

Selengkapnya →

Lara


Jemari menari, menggemuruh dibalik irama risau
Menggores aksara, merenda makna di atas tinta emas
Jatuh berkeping duka, terurai diantara geliat ruh ruh kata yg menggenangi rasa
Mengarsir legam di kebiruan bejana hening ruang jiwa
Lalu sang ceria pun beranjak pulang, tinggalkan sosok dalam kelaraan
Bernaung dalam kasih, bersandar dibalik tarian warna pelangi
Berharap tiada teracik luka disela kepak kepak cinta
Namun duka seakan tiada bermata, bertandang lurus memeluk kisah
Menguak tabir luka, kala sisi sisi kelam cinta tergerai lepas
Memateri noktah hitam di kedalaman jiwa, terasa perih
Menghempaskan kalbu hingga terjajar rebah ke ceruk jurang kepedihan
Bukankah cinta itu indah ?
Laksana semburat jingga penuh warna pelangi yg tengah tersenyum
Namun mengapa dalam pelukan kami, hanya menyisakan dua warna yg sama ?
Hitam..,dan hitam
Dan hanya menyisakan sebaris perih dari balik luka yg menganga
Cinta…tak nyana, gaung mu hanya mencipta lukisan kelam
Selengkapnya →

Merpati Desa

Merpati itu terbang tinggi,
untuk kesekian kalinya meninggalkan sangkar.
Diturutkanya kata hatinya,emosinya,egonya
dan galau cemburunya.
Membawa angan-angannya dari desa,
sejak itu jalannya pintas, tak peduli tata krama.
Sayang sekali suratan takdir menanti, pintupun terkunci,
dan kuncinya patah belah.
Merpati suci tak sadar cuma menganyam mimpi,
mimpi pun buyar menjelang pagi.

Duh..merpati desa tak dengar kata
Terkulai tak berdaya dikilau asmara sesaat,
sebab semuanya cuma fatamorgana.
Mau pulang, hidup kelam pun di jelang
Di ujung nafsu pasrahmu tak rela,
Ketika senja ; diri penuh noda


by : ken
Selengkapnya →

Puisi Malam Ini


Malam ini kurasa perih menggores hati,
segenap tawa terbungkam mati,
sejuta asa terbunuh sepi,
raga pun tak sanggup berdiri.

Kemana harus ku langkahkan kaki,
semua jalan terasa berduri.
Dimana harus ku cari kebahagiaan sejati,
di hulu dunia tiada ku temui..


Malam Kesedihan

Malam ini pikiranku kalut,
bersemayam di ujung maut,
tiada tali cinta yang dapat dirajut,
hanya amarah yang kian menyulut.

Pergilah risauku bagai kentut,
agar jalan hidupku tak lagi semrawut.
Ku berdoa sembari bersujud,
agar motivasiku takkan pernah surut..


Oleh : Abdul Ghofur

Selengkapnya →
Rabu, 12 Juni 2013

Sajak Kaleng Krupuk Budi Asih



keleng kerupuk

Dia menangis lagi
ini kesembilan kalinya
dan berulang ketika kami makan
di warung tegal
aku menebak
mungkin dia rindu
pada masakan ibu
atau pada bahasanya
logat bicaranya
medok bersahaja
mendoan yang kering dimasak tiga kali
kriuk menutupi isak tangisnya
“kau kenapa?”
“tidak”
“tidak apa?”
“aku hanya rindu”
“pada ibu, kampung halamanmu?”
“pada sebuah nama”
“siapa?”
“yang tertulis di kaleng kerupuk itu”
aku mengerti
nama itu sama dengan yang tertulis
di puisinya tahun lalu,
mantan kekasihnya
yang pergi entah kemana
“jangan hentikan aku menangis,
aku suka tangis ini,
yang demi untuknya.”
Selengkapnya →

Puisiku,Sesederhana Niatku

Bahasa yang kita pakai hari ini
mungkin takkan dimengerti
beberapa generasi lagi.
puisi-puisi saya yang sederhana
akan dianggap sastra lama
yang sulit dicerna maknanya;
mungkin bakal senasib dengan soneta, tersina, dan lainnya;
atau dengan novel-novel Hindia-Tionghoa
di masa penjajahan Belanda.

Banyak pembaca bertanya
mengapa puisi saya
berbahasa masa kini yang sederhana,
jawab saya:
saya hanya sekedar mengisi catatan sejarah
bahwa bangsa kita pernah berbahasa seperti ini.
Selengkapnya →
Kamis, 23 Mei 2013

Kumpulan Puisi Dan Syair Ku


Ucapannya


Cahaya yang pendar dalam kata, bukan percik api bintang pagi
Bayang samar yang gemetar di sana,bukan geliat muslihat fatamorgana
Ini sajak menampik suara yang disumbar para pendusta
Di sesela konsonan-vokal menggema cinta tak terlafal
Huruf-hurufku bersembulan bagai gairah bebunga,mencerap cerah cahaya
Di bawah tanah kaki-kaki mereka menjalar seliar akar,menjangkau sumber air

Kata-kataku menautkan daya renggut inti bumi

dan medan magnet yang dilancit lambung langit,
menggerakkan yang diam, meneriakkan yang bungkam
Larik-larikku dirimai rindu pada pencinta
yang datang tanpa predikat tanpa belati di belikat

Nafasnya meraba rabu,kelembutannya membelai betak benakmu

Lidah ibu menyalakan lampu dalam kataku
Benda-benda yang tersentuh cahayanya pun mengada
riuh menyebut nama-nama, piuh merajut semesta
Di semesta sajak ini tak sebiji benci semi bagi pendengki
Lidah ibuku menjelma pohon pengasih buah hati.

- caban 25 agustus 2010 -







pulang


Slalu akan kita rindukan sebuah sarang yang terajut dengan sederhana
Slalu akan kita impikn hidangkan seporsi hati dalam senyum ta' terkunci
Slalu akn kita labuhkan penat pengembaraan ke dermaga ini
Ketika kita mengerti bahwa waktu dengan sabar menunda denyut arloji

Maka izinkn aku membuka pintu meski rumah seakan ta' berpenghuni
Maka izinkn seulas salam membekap sunyi disudut serambi
Bersiap mandi, makan malam, dan menjemput mimpi
Melucuti langkah pencuri, berseturu dengan tarikan nafas birahi.






PADAMU

Pada ranum wajahmu, Aku ta' tahu musim apa dimatamu
Pada bugar dedaunanmu, Aku ta'mengerti apa yangg tersimpn di akarmu
Pada liat cintamu, Aku ta'paham keindahan nasibku karna Ampunan

Bukan noktah,bukan zarah
Apalagi larutan maghrib yang tertumpah
Maka gegar laparku adalah benalu
sembunyi ke lain sisi dunia,
seperti aib dan porak bahasa,yang ta' pernah ketemu kamusnya
Pada kenyal dzatmu
Mengalir deras sungai darah ku.

KABAN, 27 AGUSTUS 2011



'
' SDM ''


Jgn kau simpn sndri,bila memang hati ta'mmpu menaungi.
Pada suka,lelah,dan luka yang sama pula.
Aku mengkap sepsang gugup yg telah meraup.
Meski kau pandai mentup,tapi aku telah membaca peta itu dari kedua matamu.

Memang ta'sempat kita membayangkan,apalgi berpetualang.
Sebb rumh kita adalah siput,mudah mengatup bila ada suara.
Apalgi tatap yang menyimpan curiga,membuat kita segera tenggelam pada rasa bersalah.

Sa'at ini,aku memang yang memegang kemudi,tapi jagan kau pikir aku
nakhoda yang mampu melindungi kapal ini dr undangan maut.
Sebab diri ini jg kerap terlarut, dari pungut yang membuatku bertekuk lutut..

Namun khawtir sudah tidak mengikut,sebab ku tahu kau mewarisi sikapku.
Ta' perlu kau bimbang, sebab gemintang, mentari, api,dan juga bidadari siap
menemani bila sepi mulai menghampiri taman hati.

Sebelum Debar Menjalar,
pulangkan rasa itu pada pekat hatimu yang masih ungu.
Kelak bila waktu sudah membuatkan peta untkmu,
kau ta' akan bingung untuk berpetualg.
Tapi pesanku,untk saat ini simpan dulu.
Sebab hatimu blum menyimpn sejrah atas luka dan bujuk rayu..

KABAN,19 NOVEMBER 2011





Cerita dalam usia



Bisikn malaikat dan setan kian berseturu dalam stiap pendegaran,penglihtn,gerak dan hati.
Sama saling terpakn visi dan misi untuk satu alasn.
Sisi baek menguatkan ku untuk memperkokoh iman,disisi laen menyiapkn cara yang berujung pada penghancuran dimasa depn.

Tanpa diminta nalaluri berkata,
Untuk segera hadapi bukan dihindari.
Karna jalan slalu terbuka untku menuju hari esok.
Pilih putih yang pasti, ato hitam yang kelam dan terbenam.

Mungkin itulah kenapa aku hidup, hidup yang telah diberi ujian untuk krjakn tntngn.
Sebab tantangan layak dapatkan kemenangan dan kehancuran.




- KABAN 11 FEBRUARI 2012 -










SEMOGA KAU SEMBUH


Ta' ada gunanya kita mencari,mengejar mimpi.
seakan kau berpacu memburu langit yang sangat tinggi.
apa yang kita jalani, hadapi membuatmu buta dan mengosongkan jiwa.

keputus asa'an ta' kunjung henti untuk kembli mengengkang diri,
aku menunggu sluruh wkatu untuk wujudkan tubuh.
seolah berhenti berdetk denyut nadi jantugku.
Berharap di keheninya doa bisa mengobati luka.

semua tangisan tawa mengalahkan ku untuk bisa mencintaimu,
kegelapan jiwa yang aku juga kini terbaring ta' berdaya.
kebahagiaan melayangi waktu,melewati rindu,
mengacau harapan yang akan menghentikn peran dalam kehidupan.

untuk itu aku korbankan dan aku lakukn,
hanya padamu bersama waktu berlalu...
"semoga kau sembuh"



KABAN 13 FEB 2012










BELAJAR



Kau minta aku menulis cinta
Aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya
Kubolak - balik seluruh abjad,kata - kata cacat yang kudapat.

Jangan lagi minta aku menulis cinta.
Huruf - hurufku, kau tahu,bahkan tak cukup untuk namamu.
Sebab cinta adalah kau,yang tak mampu kusebut
kecuali dengan denyut..



-CABAN 18 JULY 2012 -





Selengkapnya →