Kamis, 13 Juni 2013

(book riview) Filosofi Kopi By Dewi ''dee'' Lestari

 

Judul Buku  : Filosofi Kopi
Pengarang  : Dewi “Dee” Lestari
Penerbit  : Penerbit Bentang
Tahun Terbit  : 2012
Tebal : 142 Halaman
Terdiri dari prosa dan cerita yang ditulis Mbak Dee dari tahun 1995-2005. Karena buku ini berisi 18 judul prosa dan cerita, saya hanya akan mengulas cerita yang saya suka.


FILOSOFI KOPI

Ben dan Jody, pemilik kedai kopi yang awalnya bernama Kedai Koffie BEN & JODY dan kemudian berubah nama menjadi Filosofi Kopi dengan slogan “Temukan Diri Anda di Sini”. Sejak penggantian nama dan slogannya, kedai mereka menjadi populer. Yang datang bukan hanya penggemar kopi, tapi juga orang-orang yang penasaran ataupun grup penggila filsafat yang lebih menikmati berbincang dengan Ben, sang barista.
Dengan ide-ide Ben yang kreatif, kedai kopi mereka semakin memiliki banyak pelanggan setia. Suatu hari Ben mendapat tantangan dari seorang pengusaha kaya. Ben ditantang untuk membuat kopi yang sempurna dengan imbalan 50 juta. Setelah bekerja keras, akhirnya Ben berhasil membuat racikan kopi yang sempurna dan memenangkan tantangan dari pria kaya itu. Kopi yang sempurna itu diberi nama Ben’s Perfecto.
Ben’s Perfecto menjadi primadona dan menjadi menu yang paling banyak dibeli. Ben merasa sangat puas dengan hasil kerja kerasnya, sampai suatu hari seorang pria setengah baya datang ke Filosofi Kopi dan memesan Ben’s Perfecto. Ben terpukul karena pria setengah baya itu mengatakan kalau ada kopi yang lebih enak dari Ben’s Perfecto. Berbekal rasa ingin tahu, Ben mengajak Jody ke pedesaan yang ditunjuk pria itu untuk mencicipi kopi yang disebut-sebut lebih enak dari Ben’s Perfecto.

MENCARI HERMAN
Seorang Aku yang tidak menyebutkan namanya bercerita tentang Hera, adik temannya. Hera punya obsesi aneh. Hera ingin mencari seseorang yang bernama Herman. Ya, Hera tidak pernah punya kenalan yang bernama Herman. Nama Herman sejati, tidak pakai embel-embel “to”, “syah”, ataupun yang punya unsure ke-“herman-herman”-an dalam namanya.
Sampai kuliah kedokteran pun Hera masih berusaha mencari sang Herman. Hingga akhirnya dia hamil di luar nikah. Tentu saja bukan dengan seorang Herman. Hidup Hera akhirnya hancur. Dan, setelah pulih lahir batin, Hera ingin jadi seorang pramugari.
Menjadi pramugari tak membuat hidup Hera membaik. Dia malah menjadi simpanan seorang pilot sehingga membuat keluarganya menjauhi dia. Hidupnya semakin hancur, dan semakin jauh kemungkinan untuk bertemu seorang Herman. Dengan ending yang tragis, cerita ini membuktikan bahwa pepatah “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan” benar adanya.

RICO DE CORO
Rico, seorang kecoak ningrat dan merupakan pangeran kecoak jatuh cinta pada manusia yang bernama Sarah. Sarah merupakan keluarga tempat Rico dan pasukan kecoak lainnya tinggal. Tapi tentu saja kisah cinta ini tidak akan pernah bisa berjalan mulus. Rintangan yang paling berat adalah Sarah sang pujaan hati takut pada spesies yang bernama kecoak.
Cinta Rico pun semakin mustahil ketika terjadi perburuan besar-besaran kecoak oleh keluarga Sarah. Yang membuat sang raja, Ayah Rico geram adalah karena rakyat-rakyatnya dibunuh untuk dijadikan makanan ikan arwana peliharaan Papa Sarah.
Sang raja memutuskan untuk membalas dendam dengan bantuan seekor spesies kecoak baru hasil persilangan berbagai serangga. Lalu bagaimana nasib kisah cinta Rico dengan Sarah? Baca sendiri cerita yang kocak dengan ending tragis ini.

THE REVIEW
Cerita-cerita di buku ini enak dibaca, mudah dipahami dan punya tema unik seperti karya Mbak Dee yang lainnya. Selain cerita-cerita diatas ada juga cerita lain seperti, Sikat Gigi, Sepotong Kue Kuning, Lara Lana dan Buddha Bar.
Sebenarnya semua isi buku ini menarik untuk dibaca. Tapi, menurut saya ketiga cerita diatas yang paling berkesan. Contohnya Lara Lana, cerita ini benar-benar mengejutkan. Awalnya saya pikir Lana itu seorang… ternyata…
Untuk bagian prosa sendiri saya tidak bisa menceritakannya karena  terlalu pendek dan bermakna luas. Jadi, sebaiknya baca sendiri bukunya .
Akhirnya, dengan selesainya baca buku ini lengkap sudah karya-karya Mbak Dee yang saya baca. Bukunya sangat ringan tapi berisi, persis seperti karya Mbak Dee yang saya baca sebelumnya, Madre.

MEMORABLE QUOTES
  • “Kopi Tiwus telah membuatku sadar, bahwa aku ini barista terburuk. Bukan cuma sok tahu, mencoba membuat filosofi dari kopi lalu memperdagangkannya, tapi yang paling parah, aku sudah merasa membuat kopi paling sempurna di dunia. Bodoh! Bodoooh!” Hal. – 23
  • “Pepatah bukan sekedar kembang gula susastra. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk memformulasikannya. Dibutuhkan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang santai ke tepian. Dibutuhkan orang yang tersungkur jatuh dan harus tertimpa tangga. Dibutuhkan sebelanga susu hanya untuk dirusak setitik nila. Dibutuhkan seorang Hera yang mencari Herman.” Hal. – 31
  • “Larilah dalam kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan begitu, kita mampu memperbudak waktu. Melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu.” Hal. – 71
  • “Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.” Hal. - 99 

0 komentar :

Poskan Komentar